PembelajaranDengan Laptop
(Satu laptop untuk satu siswa. Proses belajar-mengajar menjadi lebih hidup di sekolah berteknologi digital.)
Bayangkan bersekolah tanpa membawa buku tulis, pensil, pulpen, dan bahkan buku pelajaran. Yang ada di dalam tas setiap anak hanya sebuah laptop. Di Sekolah Internasional Sinarmas World Academy, Bumi Serpong Damai, Tangerang, ini bukanlah mimpi. Sekolah di atas lahan 5,2 hektare ini memadukan teknologi informasi digital paling mutakhir dengan dunia pendidikan sejak tahun lalu. Memang, setelah Sembilan bulan mencoba, hingga kini buku dan pensil masih tetap digunakan. Tapi laptop telah menjadi bagian yang tak terpisahkan di sekolah itu. “Laptop dan Internet di sini seperti pulpen, pensil, atau buku. Bagi kami semua itu adalah alat pendukung proses belajar-mengajar,” kata John Mc- Bryde, Chief Executive Officer Sinarmas World Academy, dua pekan lalu. Tren menjadikan komputer sebagai alat belajar dan mengajar muncul mulai awal 2000-an. Gejala ini meningkat empat tahun lalu.
Direktur pemasaran produsen peranti lunak pendidikan Pesona Edukasi, Hary Sudiyono Candra, mengatakan bahwa dalam empat tahun terakhir permintaan terhadap peranti lunak pendidikan terus meningkat. “Sepertinya masyarakat mulai sadar bahwa alat bantu teknologi semacam ini dibutuhkan,” ujarnya. “Dunia memang sedang demam e-learning.” Sekitar 3.000 sekolah di seluruh Indonesia kini memakai produk Pesona Edukasi. Sekolah itu tidak cuma yang berada di Jakarta, tapi hingga Situbondo, Jawa Timur. Peranti lunak perusahaan itu juga sudah dipakai di sekolah di 23 negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, dan Australia. Buku sekolah yang bisa dibaca di komputer juga sudah bertebaran. Baca selebihnya »
Pembelajaran Transformator
Satu guru, satu laptop. Tentu akan sangat luar biasa dan akan dengan cepat dapat mewujudkan pendidikan di negeri ini meloncat jauh untuk berkompetisi dalam peningkatan mutu pendidikan pada mata dunia. Apa dan bagaimana program yang digagas Klub Guru Indonesia ini?
Berikut wawancara dengan James F Tomasow, Project Manager
Sagusala kepada Tabloid Klub Guru.
Apa sebenarnya Sagusala itu?
Sagusala itu adalah program yang mendukung transformasi pendidikan di Indonesia.
Dimana melalui program ini guru diharapkan mampu mengembangkan teknologi belajar dan pengetahuannya dengan sumber yang lebih luas lagi. Jadi, esensi Sagusala itu bukan pada pengadaan perangkatnya tetapi kontennya. Notebook itu sebagai alat pendukung saja. Walaupun judulnya Sagusala (satu guru satu laptop).
Apakah tujuan program ini untuk meningkatkan kualitas guru?
Ya. Tapi kalau meningkatkan sih kurang tepat, karena peningkatan kualitas itu sendiri relatif. Yang jelas adalah transformasi. Mengubah pola konvensional, cara mengajar yang lama ke cara mengajar yang baru. Mentransformasi dengan mencari sumber belajar baru, dari yang sebelumnya hanya buku, kini memiliki sumber media yang banyak. Intinya, melalui program ini kita berupaya mengubah sistem guru belajar dan
mengajar.
Latar belakang apa yang kemudian memunculkan gagasan Sagusala ini?
Program ini sebenarnya diawali dari keprihatinan kondisi pendidikan kita. Di mana-mana, di negara-negara maju yang diubah pertama kali adalah guru. Namun negara kita tidak pernah melakukan hal itu. Baru sekarang ada gejala ke arah sana, tapi cara yang ditempuh tidak akan menghasilkan suatu target yang sangat cepat. Oleh karena itu, di era teknologi informasi ini tidak ada pilihan lain selain memberikan kesempatan kepada guru untuk mengakses informasi yang lebih besar. Untuk itu diperlukan
perangkat, yaitu komputer. Baca selebihnya »
Revolusi Pengajaran Melelui Laptop
Dunia pendidikan telah berubah kita setuju atau tidak setuju dan kita mesti segera angkat kaki dari sistem pembelajaran konvensional yang selama ini kita anut dan pegang dengan erat. Teknologi telah menguasai hidup kita kini dan akan semakin besar perannya di masa mendatang. Jadi, kecuali kita ingin agar anak-anak generasi penerus kita tinggal di dalam gua atau menjadi warga dunia kelas empat dan lima, kita harus segera menguasai dan mengadopsi teknologi dalam system pembelajaran kita. Tidak bisa tidak. Teknologi adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi modern. Teknologi mengubah cara kita hidup, apa yang kita lakukan, bagaimana kita berkomunikasi, dan bagaimana kita bekerja. Reformasi pendidikan haruslah dimulai dari guru karena gurulah yang harus memulai perubahan dan bukan siswanya. Guru haruslah menjadi pemimpin dan pelopor dalam perubahan. Dan untuk dapat menjadi pemimpin perubahan maka guru haruslah melakukan perubahan dulu dari dalam dirinya sendiri dengan melakukan perubahan yang mendasar dan revolusioner dalam menjalankan
proses belajar mengajarnya
IRONI SUMBER DAYA PENDIDIKAN KITA
‘A revolution in teaching the child requires a revolution in the way teachers learn’, kata Wikiversity. Jika ingin terjadi perubahan pada cara belajar siswa kita yang pertama-tama perlu diubah adalah cara belajar gurunya. Kita tidak mungkin berharap anak-anak kita menguasai teknologi informasi, umpamanya, jika bahkan para gurunya pun tidak mengenal teknologi tersebut. Jika ingin mengubah wajah pendidikan kita maka yang pertama-tama harus dirombak total adalah sistem pendidikan guru kita di semua LPTK. Jika system pembelajarannya masih mengunakan system konvensional maka jelas tidak masuk di akal jika kita berharap lulusannya akan dapat menjadi guru yang siap untuk menghadapi tantangan abad 21. Berbagai hasil statistik menunjukkan ketertinggalan kita di bidang pendidikan. Masalah besar kita adalah kualitas guru yang
kita miliki. Berdasarkan hasil survey dari Pustekkom pada 195 orang guru SMAN
ternyata 77% di antara mereka ternyata belum pernah mengenal internet dan sisanya pernah menggunakan antara 1 s/d 5 kali. Jadi bagaimana kita bisa berharap bahwa mereka akan dapat mengenalkan teknologi kepada para siswanya (apalagi menguasainya sebagai bekal hidup di masa depan)
TUGAS GURU ADALAH BELAJAR
Meski selalu dikatakan bahwa tugas guru adalah terus belajar tapi pernahkah kita perduli bagaimana guru belajar dan apa materi yang harus terus dipelajarinya? Fakta adalah bahwa sangat langka ada guru yang terus belajar secara mandiri dan umumnya mereka hanya menggunakan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun yang lalu ketika masih di bangku kuliah. Guru telah berhenti belajar karena faktor tak adanya alat, materi dan sumber belajar secara mandiri dan tak adanya sistem dan lingkungan yang kondusif untuk mendorong guru untuk tetap belajar memperbaharui ilmu pengetahuan mereka. Dengan jumlah guru hampir 3 juta orang saat ini Depdiknas tidak mungkin diminta untuk menyelenggarakan pelatihan berkala bagi semua guru yang ada sehingga tugas untuk belajar dan berlatih haruslah dilakukan oleh guru sendiri secara mandiri. Depdiknas hanya akan dapat memberikan bentuk pelatihan yang bersifat TOT (training of Trainers) yang nantinya akan diharapkan bergulir. Jadi tantangannya adalah bagaimana caranya membuat guru mau dan mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Untuk itu guru harus dibekali dengan alat, materi dan sumber belajar yang dapat digunakannya untuk belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Alat, materi dan sumber belajar tersebut haruslah mudah digunakan dan diakses dan juga benar-benar bermanfaat dalam membantu guru menjalankan tugasnya sehari-hari di kelas maupun di luar kelas.
GURU HARUS MELEK INTERNET
Internet itu jalan raya dari abad 21 yang akan mengantarkan kita untuk berkomunikasi dan saling tukar informasi. Komoditas utama di masa depan adalah ilmu pengetahuan dan bukan lagi minyak atau batubara. Untuk mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan maka kemampuan teknologi, komunikasi, berpikir kritis, dan kemampuan berkolaborasi adalah dasar dari pengembangan ilmu pengetahuan. Jika para guru masih belum beranjak dari pola pembelajarannya yang konvensional maka silakan minggir karena sungguh apa yang diajarkannya di kelas tidak akan dapat dimanfaatkan oleh para siswanya kelak.
SAGUSALA (SATU GURU SATU LAPTOP), PROGRAM LAPTOP UNTUK GURU
Program SAGUSALA adalah sebuah program realistis yang dirancang untuk menjawab permasalahan belajar guru agar mereka dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan sekaligus menjadi Guru Abad 21. Laptop in akan menjadi ’one tool for all teacher‘s purposes’. Pertama, perangkat laptop ini dapat digunakan sebagai sumber dan alat belajar bagi guru dalam upaya pengembangan diri secara berkelanjutan (sustainable professional development) yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajarnya di kelas maupun di luar kelas . Kedua, selain sebagai alat dan sumber belajar laptop ini juga dapat dipakai untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan para guru di seluruh dunia dengan menggunakan materi belajar kelas dunia. Alat ini akan dapat membuat guru melakukan reformasi baik dalam ilmu pengetahuannya maupun dalam cara mengajarnya.
APA MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI BAGI GURU?
Dengan menggunakan teknologi maka guru akan sangat terbantu dalam menjalankan tugasnya dalam mengajar.
Pertama, pembelajaran mereka akan lebih menarik sehingga akan dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dari guru. Visualisasi dan animasi materi pelajaran akan membuat siswa lebih mudah untuk memahami dan lebih tertarik untuk lebih mendalami materi.
Kedua, jika semua materi pembelajaran dapat dikemas dalam sebuah laptop maka itu
sama dengan menjinjing dunia dalam satu genggaman. Bayangkan berapa banyak
informasi yang bisa dimasukkan dalam laptop tersebut dan ditampilkan oleh guru pada siswasiswanya. Bahkan berbagai kamus dan ensiklopedia dapat ditanamkan dalam laptop tersebut sebagai sumber belajar yang luar biasa kapasitasnya.
Ketiga, memiliki laptop dengan kumpulan informasi yang diperlukan untuk mengajar jelas akan memudahkan guru dalam melakukan persiapan. Persiapan mengajar akan lebih mudah karena tinggal seleksi, salin, edit, dan tempel materi persiapan yang telah ada dan sajikan. Hal ini akan memberikan guru waktu lebih untuk menyiapkan materi pengayaan dan remidial yang dibutuhkan siswa.
Keempat, pembelajaran jelas akan lebih relevan dengan dunia nyata karena materi yang ada pada laptop tersebut adalah materi-materi yang terbaru dan dapat selalu diupdate. Dengan demikian guru dan siswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan materi yang terkini dan tdak akan ketinggalan dengan materi dari belahan dunia mana pun. Guru dapat menyusun materi sesuai dengan kebutuhan siswa akan kehidupan nyata.
Kelima, pembelajaran jelas akan lebih kontekstual dan bermakna. Guru dan siswa akan
saling belajar pada materi-materi yang memiliki hubungan dengan dunia nyata. Guru juga akan lebih terdorong dan tertantang untuk mencari sumber-sumber belajar lain sehingga akan mendorong mereka untuk menjadi lebih aktif dan kreatif.
Keenam, pembelajaran berbasis TI akan mendorong guru untuk dapat menciptakan
sendiri materi-materinya dengan berusaha menyempurnakan materi-materi yang telah ada dalam laptopnya. Dengan demikian para guru akan membutuhkan kerjasama dengan guru-guru lain dalam menyesuaikan materi yang ada dengan kebutuhan nyatanya di kelas. Hal ini akan mendorong terwujudnya prinsip belajar seumur hidup atau ‘Life long learning’ karena guru akan tertantang utk selalu mencari bahan dari sumber manapun yang dapat digalinya.
MATERI APA YANG PERLU DIMASUKKAN DALAM LAPTOP TERSEBUT?
Agar laptop tersebut benar-benar bermanfaat bagi guru (dan tidak menjadi ajang main ’games’ belaka) maka laptop tersebut haruslah sudah berisi berbagai materi pembelajaran yang dibutuhkan guru untuk pengembangan pribadi dan profesionalismenya Kita bias memasukkan berbagai materi seperti : Buku Sekolah Elektronik (ada ratusan buku), Kumpulan soal Ujian Nasional (UNAS), Materimateri
pembelajaran interaktif, Digital Media Learning yang tersedia secara gratis dari
berbagai sumber, dan perangkat-perangkat lunak untuk pengolah kata, data dan presentasi.
PELATIHAN DAN DUKUNGAN KOMUNITAS
Membekali guru dengan laptop yang berisi semua materi dan sumber belajar mereka saja tidak cukup. Mereka harus tetap dberi pelatihan bagaimana menggunakan dan memanfaatkan laptop tersebut dalam membantu kebutuhan mereka dalam bekerja sehari-hari. Tapi dengan memiliki alat tersebut para guru akan lebih mudah untuk belajar baik dari para ahli maupun dari sesama guru. Mereka telah memiliki alat dan bahan materi belajar mereka sendiri yang bisa mereka pelajari lagi sendiri ketika berada
di rumah. Jika para guru telah memiliki peralatan dan sumber belajarnya sendiri maka berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru akan lebih mudah untuk diselengggarakan secara terstruktur dan kontinyu. Guru juga akan mampu untuk belajar secara mandiri dengan peralatan dan sumber belajar yang bisa ia perbaharui sendiri Dengan memiliki laptop tersebut akan terbentuk komunitas guru pembelajar yang akan saling belajar dan bertumbuh (sharing and growing together). Guru akan dapat memasuki sebuah komunitas guru profesional baru yang akan dapat membantunya berkembang bersama. Saat ini Klub Guru Indonesia (KGI) telah menjadi komunitas guru pembelajar yang sangat aktif dengan berbagai kegiatan pelatihan guru.
BAYANGKAN!
Mari kita berandai-andai dan membayangkan seandainya ada 10.000 guru dalam sebuah kota yang melakukan lompatan besar dari yang semula belajar dan mengajar dengan sistem pembelajarana konvensional tiba-tiba kini menggunakan laptop dalam pekerjaan sehari-harinya di rumah dan di kelas. Bayangkan jika mereka terkoneksi dengan internet dan dapat mengakses sumber-sumber pembelajaran klas dunia dan dengan itu mereka mengubah wajah kelas mereka menjadi kelas pembelajaran Abad 21. Bayangkan jika para guru tiba-tiba berkomunikasi satu sama lain dalam komunitas profesional yang berskala dunia. Saya yakin akan terjadi revolusi dunia pendidikan di kota tersebut!
MENGAPA TIDAK...?
SAGUSALA bukanlah program ’mission impossible’ dan bahkan sebenarnya program yang sangat realistis. Mari kita lihat. Jika harga laptop bagi guru sekitar Rp.4 juta /buah, maka untuk membekali 10.000 orang guru hanya dibutuhkan dana sebesar Rp.40 M. Jika guru di kota tersebut dapat membeli laptop tersebut dengan sistem kredit cicilan 10 X (apalagi tanpa bunga) maka mereka akan dapat melunasinya kurang dalam setahun. Jika pemerintah daerah bersedia meminjami dana tersebut melalui bank pembangunan masing-masing maka upaya untuk mentransformasikan pendidikan ke pendidikan berbasis teknologi informasi akan segera terwujud kurang dari setahun. Dengan demikian pemda tersebut dapat berharap sebuah lompatan perubahan yang besar dan nyata dalam sistem pendidikannya Kota tersebut jelas akan meninggalkan kota lain yang masih menggunakan pendekatan dan paradigma pendidikan yang konvensional.
SINERGI SEMUA PIHAK
Mari kita bersama-sama mewujudkan citacita bangsa dan negara dalam bentuk
sinergisme antara semua pemangku kepentingan. Jika kita menggabungkan semua
potensi, sumber daya,keahlian dan pengalaman yang kita miliki masing-masing dalam
menggerakan perubahan di bidang pendidikan maka tidak mustahil bahwa kita bisa mengejar ketertinggalan kita dibanding negara-negara maju lainnya. Mari buktikan!
METODE ROLE PLAYING
Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry). Baca selebihnya »
Ulangan UTS I, KLS III, Semester I
I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d di depan jawaban yang tepat!
( Kls III, Semester I, Ulangan UTS )
1. Sebab khusus terjadinya Perang Dunia II adalah ….
a. serangan Jerman ke Amerika Serikat pada tanggal 7 Desember 1941
b. serangan Jerman ke Polandia pada tanggall September 1939
c. Jerman tidak mau mengakui Perjanjian Versailles
d. Jerman melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Rusia
2. Perhatikan peta berikut ini!
Pada bulan Juni 1940 Perancis jatuh ke tangan Jerman. Pada peta di atas. negara
Perancis ditunjukkan angka ….
a. I
b. II
c. III
d. IV
3. Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) diawali dengan peristiwa ….
a. direbutnya kepulauan Marshall di Pasifik
b. direbutnya kepulauan Solomon oleh Jepang
c. pemboman Pearl Harbour oleh Jepang
d. penyerbuan Jepang atas Manchuria
4. Strategi awal yang ditempuh Jepang untuk menguasai daerah- daerah Asia Pasifik pada Perang Dunia II adalah ….
a. merebut Indonesia dari tangan Belanda
b. menghancurkan kekuatan militer Amerika Serikat
c. menarik simpati rakyat di daerah- daerah Asia Pasifik
d. menduduki Filipina yang diduduki Amerika Serikat
5. Jepang mengadakan propaganda dengan Gerakan 3 A sebenarnya bertujuan untuk mendapat dukungan melawan Sekutu
a. mendapat dukungan dari rakyat Indonesia
b. menghindari perlawanan rakyat Indonesia
c. melawan pemerintah kolonial Belanda
d. menekan partai-partai politik di Indonesia
6. Di antara perbedaan Heiho dengan PETA adalah ….
a. prajurit Heiho sebagai bagian tentara Jepang
b. PETA langsung di bawah organisasi militer Jepang
c. Heiho bertugas mengumpulkan pajak dari rakyat
d. PETA bertugas sebagai tentara matamata Jepang
7. Untuk menghadapi perang Asia Timur Raya, pemerintah pendudukan Jepang mendidik para pemuda yang berumur 18-25 tahun dan bertugas sebagai pembantu prajurit Jepang yang disebut ….
a. Keibodan
b. Seinendan
c. Heiho
d. PETA
8. Pada masa pendudukan Jepang, hasil pertanian Indonesia mengalami kemerosotan karena ….
a. tanahnya sernakin sempit
b. kesuburan tanahnya berkurang
c. para petani menjadi Romusha
d. rakyat diwajibkan menanam jarak
9. Latar belakang pemerintah pendudukan Jepang memperbolehkan Majelis Islam A’la
Indonesia (MIAI) tetap berdiri adalah ….
a. MIAI merupakan tangan panjang Jepang
b. untuk mernajukan kegiatan urnat Islam
c. sebagai pendekatan terhadap urnat Islam
d. MIAI banyak berjasa terhadap Jepang
10. Perlawanan PETA (Pembela Tanah Air) terhadap Jepang dipimpin oleh ….
a. Supriyadi
b. Kusaeri
c. T. Hamid
d. Tengku Abdul Jalil
Soal Ulangan UTS Kls II semester I
A. Jawablah Pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda silang pada option a,b,c atau d yang dianggap benar!
1. Salah satu dampak pelaksanaan Politik Etis yang dilakukan oleh Belanda yaitu ….
a. melahirkan golongan cerdik dan pandai
b. mendorong lahirnya Sumpah Pemuda
c. menambah penerimaan kas Belanda
d. mendorong timbulnya perlawanan rakyat di berbagai daerah
2. Timbulnya pergerakan nasional Indonesia dipelopori oleh ….
a. kaum bangsawan
b. para ulama
c. tokoh-tokoh liberal
d. para pelajar
3. Salah satu faktor yang mendorong pergerakan nasional yang muncul dari bangsa sendiri adalah ….
a. pengaruh masuknya paham-paham baru di Indonesia
b. penderitaan bangsa Indonesia yang berkepanjangan
c. gugurnya raja-raja yang melawan penjajah
d. makin luasnya pengaruh Belanda di lingkungan kerajaan
4. Tujuan utama berdirinya Budi Utomo yaitu ….
a. mendirikan sekolah pribumi
b. meningkatkan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan
c. mempersatukan para tokoh perjuangan bangsa dalam melawan penjajah
d. melakukan perundingan dengan pihak penjajah
5. Tujuan pokok diselenggarakan Kongres Pemuda II pada tahun 1928 ialah ….
a. melatih para pemuda hidup berorganisasi
b. untuk mempercepat proses meraih kemerdekaaan
c. membentuk wadah kegiatan para pemuda Indonesia
d. mempersatukan seluruh rakyat Indonesia
6. Tujuan perjuangan Partai Nasional Indonesia adalah….
a. Indonesia memiliki pemerintahan sendiri
b. meningkatkan dan memajukan derajat bangsa Indonesia
c. mencapai Indonesia merdeka atas usaha sendiri
d. menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan bangsa Indonesia
7. Partai berikut yang bersifat radikal dalam perjuangan menghadapi penjajah adalah ….
a. Perhimpunan Indonesia (PI)
b. Partindo 1931
c. Partai Indonesia Raya (Parindra)
d. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
8. Indische Vereniging (Perhimpunan Indonesia) merupakan perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda yang bersifat ….
a. politik dan radikal
b. politik tetapi moderat
c. non politik dan moderat
d. khusus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
9. Sejak tahun 1930 organisasi-organisasi pergerakan Indonesia mengubah taktik perjuangannya, mereka menggunakan taktik kooperatif atau bersedia bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda, sehingga masa tersebut dikenal dengan ….
a. masa radikal
b. jaman konsultasi
c. masa moderat
d. jaman penegas
10. Tanggal 22 Desember 1928 merupakan hari berlangsungnya Kongres Wanita Indonesia I, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai ….
a. hari kebangkitan perempuan
b. hari ibu
c. kebangkitan kaum wanita
d. kelahiran emansipasai wanita
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!
1. Sebutkan faktor-faktor yang mendorong munculnya Pergerakan Nasional Indonesia.
2. Apa yang dimaksud kelompok elite nasional?
3. Tunjukkan 3 perbedaan pokok sifat perjuangan bangsa Indonesia sebelum tahun1908 dan sesudah tahun1908.
4. Bagaimana cara Indhische Partij menumbuhkan semangat kebangsaan di masyarakat?
5. Apa hasil dari Kongres Pemuda II?
Strategi Pembelajaran
Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).
Di bawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai model pembelajaran Masteri Learning tersebut.
Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback).
Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).
Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut :
(1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test);
(2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan
(3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).
Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu:
(1) mengidentifikasi pra-kondisi;
(2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan
(3) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).
Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.
Sekitar CIA dan G.30.S/PKI/1965
CIA, badan Intelijen AS sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dalam kaitannya dengan peristiwa G 30 S/PKI, banyak pergunjingan yang menekankan keterlibatan CIA. Dalam suasana peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1995 baru lalu, banyak orang termasuk kalangan elit politik Indonesia yang membicarakan risalah CIA yang baru saja dipublisir dengan judul Indonesia 1965: The Coup That Backfired. Risalah ini berisi catatan intelejen AS yang beroperasi di Indonesia sekitar 1965 mengenai tragedi berdarah G 30 S/PKI.
Kontroversi tentang peran CIA dalam peistiwa G 30 S/PKI hingga kini belum usai. Julius Mader dalam bukunya, Who’s Who in CIA, mencatat 77 nama agen CIA yang bertugas di Indonesia hingga tahun 1967. Sebagian nama yang disebut Mader bukan nama yang asing bagi sejumlah orang Indonesia. Hanya saja nama nama tsb tidak dikenal sebagai agen CIA melainkan nama pejabat di Kedubes AS sekitar 1965 yang suka berdiskusi, mengajak berolahraga bersama, membuat resepsi atau mengundang makan. Rosihan Anwar bekas pemimpin redaksi majalah Pedoman ketika membaca nama nama tsb mengenali beberapa diantaranya Edward E. Masters (Sekretaris Atase Politik Kedubes AS di Jakarta 1965, Jack Wilson Lydman (orang kedua di Kedubes AS), Burton Levin (Sekretaris III Bidang Politik Kedutaan, 1959), dan Francis T. Underhill (pegawai Kedubes AS).
Rosihan Anwar yang dulu sering bergaul dengan banyak orang AS, sudah mencurigai gerak gerik pejabat pejabat tadi. Mereka pada umumnya pandai bergaul dan mengajak bermain Badminton atau makan malam. Sahata Hutagalung yang dahulu pemimpin koran Sinar Harapan di Medan masih mengingat nama nama Dean J. Almy Jr. dan Robert L. Taylor bekas pejabat Konsul AS di Medan sekitar 1965. Robert L. Taylor yang ramah itu tidak saja akrab dengan Sahata tetapi juga dengan Syamsudin Manan (dari koran Mimbar Umum), Dahlan (harian Bintang Indonesia), dan Syarifudin (harian Bukit Barisan). Lewat organisasi English Conversation yang didirikannya, Robert L. Taylor dengan rekan rekan Indonesianya berbicara mengenai banyak hal termasuk masalah politik dan gerakan PKI. Dari persahabatan itu pula tiga pemimpin redaksi dari Medan tadi sempat melancong ke AS. Sahata Hutagalung yang kini 65 dan pengusaha Restoran Tip-Top di medan itu tidak menyangka bahwa rekanan ASnya adalah agen CIA.
Sekitar lima tahun yang silam, perpustakaan Lindon B. Johnson membuka dokumen mengenai hubungan Indonesia-AS di seputar 1965. Dokumen ini digunakan oleh Gabriel Kolko, seorang ahli Indonesia asal AS untuk menerbitkan bukunya The Roots of American Foreign Policy yang antara lain berisikan keterlibatan AS melalui CIA dalam peristiwa G 30 S/PKI. Manai Sophiaan dalam bukunya Kehormatan Bagi Yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G 30S/PKI memperkuat pendapat G. Kolko. Sebelum G. Kolko ada penulis lain dari luar negri yang mengemukakan thesis yang berbeda sekali dengan pandangan resmi di Indonesia. Benedict R. Anderson dan Ruth Mc.Vey, dua ahli politik Indonesia dari Cornell University AS menerbitkan apa yang disebut Cornell Paper yang menyebutkan bahwa G 30 S/PKI sebenarnya berawal dari konflik intern Angkatan Darat yang pada saat saat terakhir menyeret PKI. Di Indonesia sendiri belum lama ini terbit Memoar Oei Tjoe Tat yang kemudian dilarang beredar. Dalam bukunya Oei Tjoe Tat menyebutkan bahwa G 30 S/PKI merupakan kudeta terselubung Angkatan Darat. Pada bulan September 1993, Wimanjaya K. Liotohe membuat tulisan yang dipublisir di Amsterdam. Dalam bukunya yang berjudul Primadosa, tanpa bukti autentik ia menuduh Panglima Kostrad Soeharto mendalangi G 30 S/PKI. Kabakin Sudibjo dalam dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI 7 Pebruari 1994 menyatakan bahwa hanya orang gila yang menuduh Pak Harto mendalangi G 30S/PKI. Baca selebihnya »
Paradigma Baru Pendidikan IPS
Konsep dan Rasional “Social Studies” Secara Umum
1. Dalam wacana kurikulum sistem Pendidikan di Indonesia terdapat tiga jenis program pendidikan sosial, yakin: program (pendidikan) ilmu-ilmu sosial (IIS) yang dibina pada fakultas-fakultas sosial murni; disiplin ilmu pengetahuan sosial (PDPIS) yang dibina pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial: dan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (PIPS) yang diberikan terutama di dalam pendidikan persekolahan
2. Perkembangan PIPS dan PDIPS secara konseptual terkait erat pada konsep “social studies” secara umum, dan secara kurikuler terkait erat pada perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana karakteristik dan perkembangan PDIPS perlu dikaitkan dengan konsep, dan perkembangan “social studies” dan konsep serta perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan.
3. Konsep “social studies” secara umum berkembang secara evolusioner di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an, yang kemudian mengkristal menjadi domain pengkajian akademik pada tahun 1900-an, antara lain dengan berdirinya National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1935. Pilar akademik pertama muncul dalam pertemuan pertama NCSS tahun 1935, berupa kesepakatan untuk menempatkan “social studies” sebagai “core curriculum”, dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian “social studies” yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni “The social studies are the social. sciences simplified for pedagogical purposes”.
4. Dari penelusuran historis epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi “social studies” mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketakmenentuan, ketakberkeputusan, ketakbersatuan, dan ketakmajuan. Antara tahun 1940-1950 “social studies” mendapat serangan dari berbagai sudut; tahun. 1960-1970-an timbulnya tarik-menarik antara pendukung gerakan the new social studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan “social studies” yang menekankan pada “citizenship education”. Para pendukung gerakan “the new social studies” kemudian mendirikan Social Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan “social studies” yang terpisah pada “citizenship education”
5. Pada era 1980-1990-an NCSS kelompok berhasil, menyepakati “scope and sequence of social studies”, yakni tahun 1963; kemudian pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep “social studies” untuk abad ke 21 yang dituangkan dalam “Charting A Course: Social Studies for the 21st Century”, dan terakhir pada tahun 1994 disepakati “Curriculum Standards for Social Studies”. Baca selebihnya »
INOVASI METODE PEMBELAJARAN SEJARAH
Berangkat dari pengalaman yang di alami penulis, pelajaran sejarah sampai saat ini masih menjadi mata pelajaran yang terkatagori nomer dua, bahkan nomer sekian dari beberapa mata pelajaran yang di sampaikan di sekolah tingkatan SMP, sehingga guru apapun basic pendidikannya, dan dengan pertimbangan sejarah adalah mata pelajaran hapalan dan mudah maka guru apapun dapat mengajarkannya.
Ironi memang, di saat pemerintah mulai mencanangkan profesionalisme dalam pembelajaran dengan diluncurkannya sertifikasi guru, masih banyak ditemukan di temukan sekolah yang memberikan tugas kepada guru yang tidak berbasic sejarah mengajar sejarah, kapan yang namanya profesionalisme dapat dicapai?????????
Itu adalah sisi pembelajaran sejarah yang terkatagori tidak tepat, tetapi disisi lain kadang kekeliruan datang dari ketidakmampuan guru sejarah menciptakan inovasi model pembelajaran, ataupun menggunakan metode pembelajaran yang kreatif.
Dewi Suhartini (2001:6) mensinyalir kekeliruan metode pembelajaran sejarah Baca selebihnya »
-
Arsip
- Oktober 2009 (6)
- September 2009 (13)
- Mei 2009 (3)
- April 2009 (6)
- Maret 2009 (11)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS


