DIKTAT SEJARAH KELAS IX [semester I]

A. Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Harus dipahami bersama bahwa kemerdekaan suatu bangsa merupakan bentuk akhir dari satu proses untuk pembentukan jati diri dan karakter suatu bangsa. Kemerdekaan Indonesia merupakan suatu proses yang sangat panjang, dimana kita pernah mengalami suatu masa keemasan dan kejayaan dikala kita menjadi suatu bangsa yang merdeka. Namun kemerdekaan itu hilang dan tidak pernah kita alami lagi saat bangsa ini mengalami masa penjajahan, baik itu penjajahan dari Bangsa Eropa maupun dari Banga Asia itu sendiri. Hal ini harus kita pahami mengapa ini dialami oleh Bangsa Indonesia. Bangsa yang besar dengan pengalaman sejarah yang besar pula

Pengalaman ini harus menjadi bahan pembelajaran oleh rakyat dan Bangsa Indonesia saat ini, bahwa kemerdekaan akan hilang dan tidak pernah kita alami lagi dimana Bangsa Indonesia mengalami kelemahan dan kelengahan. Kemerdekaan Indonesia yang di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hasil perjuangan Bangsa Indonesia yang sudah kembali sadar dengan dirinya, kesadaran yang tumbuh kembali setelah kita diperalat dengan kolonialisasai Bangsa Eropa maupun Bangsa Asia sendiri. Namun ternyata dibalik kemerdekaan yang sudah kita peroleh itu, masih ada hal yang perlu diluruskan mengenai prosesi kemerdekaan itu sendiri, jangan ada kesan bahwa kemerdekaan yang kita peroleh merupakan hasil perolehan atau merupakan hadiah dari bangsa asing.

Prosesi kemerdekaan Indonesia sendiri terjadi diawali oleh suatu peristiwa Internasional terjadi pada waktu itu, pada waktu itu sedang Perang Dunia II, pada saat yang bersamaan Indonesia saat itu berada dalam kekuasaan Jepang, pada masa itu posisi Bangsa Jepang dalam Perang Dunia II berada dalam Blok Timur, sekelompok dengan Jerman, Italia. Peristiwa kekuasaan Jepang di Indonesia dimulai dengan ditandatanganinya perjanjian antara Jepang dengan Belanda di Kalijati yang kemudian terkenal dengan perjanjian Kalijati tanggal 8 Maret 1942, inti dari perjanjian ini adalah bahwa Belanda menyerahkan kekuasaannya atas Indonesia kepada Jepang yang meliputi wilayah kekuasaan Belanda,dengan adanya perjanjian ini mengandung arti bahwa secara de jure atau hukum maka sejak tanggal 8 Maret 1942 kita mulai dikuasai oleh Jepang.

Kedatangan Bangsa Jepang ke Indonesia ditanggapi oleh Bangsa Indonesia secara variatif, artinya ada kelompok yang merasa senang dengan kadatangan Jepang tentunya dengan alasan tersediri, tetapi ada juga sebagian Bangsa Indonesia yang merasa tidak suka denga kedatangan Bangsa Jepang tentunya dengan alasan tersenzxdiri juga. Perbedaan pandangan terhadap Jepang ini ternyata bertahan sampai menjelang proklamasi kemerdekaan. Hal ini disadari oleh Bangsa Jepang, sangat dimanfaatkan sekali. Diawali dengan proses propaganda Jepang dengan semboyan 3A, diteruskan dengan pembentukan hal-hal yang bernuansakan militerisme, langkah ini dilanjutkan lagi namun lebih bernuansakan politik yaitu dengan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia [BPUPKI] pada tanggal 29 April 1945 Dokuritsu Jumbi choosakai yang pelantikannya dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 dan mulai bekerja pada tanggal 29 Mei 1945, yang kalau kita lihat pembentukan ini dilator belakangi oleh keadaan Jepang sendiri dalan kancah Perang Dunia II yang mulai mengalami keruntuhan untuk lebih menarik simpatik bangsa Indonesia itu sendiri. Untuk menunjukan kemurniaan pembentukan BPUPKI, maka kemudian BPUPKI mengadakan beberapa kali sidang.

Pada tanggal 29 Mei 1945 Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia mulai mengadakan sidang pertamanya dan ini merupakan suatu tonggak yang sangat bersejarah, karena pada waktu itu Mr. Muhamad Yamin menyampaikan suatu pidatonya diantaranya menyampaikan lima azas Dasar Negara yang kemudian disebut dengan Pancasila : 1. Peri Kebangsaan. 2. Peri Kemanusian. 3. Peri Ketuhanan. 4. Peri Kerakyatan 5. Kesejahteraan Rakyat.

Tetapi dalam usulannya rancangan UUD beliau menyampaikannya dalam bentuk yang berbeda yaitu : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kebangsaan Persatuan Indonesaia. 3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih dalam sidang pertama, Ir Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 menyampaikan pidatonya juga sama, perumusan azas-azas dasar negara yang sistematiknya sebagai berikut : 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau Perikemanuasiaan. 3. Mufakat atau Demokrasi. 4. Kesejahteraan social. 5. Ketuhanan yang berkebudayaan. Lima azas yang disampaikan oleh Soekarno tersebut beliau menyebutnya dengan Pancasila, meramu sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan disebut Trisila, dan diperas lagi menjadi ekasila yaitu gotong royong. Kalau kita analisa antara rumusan Pancasila menurut Mr. Muhamad Yamin dengan rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 banyak sekali persamaannya, tetapi kalau kita membandingkan rumusan Pancasila menurut Ir. Soekarno dengan rumuan Pancasila dalam UUD 1945 sangat bertolak belakang.

Pada tanggal 22 Juni 1945 dalm usulan landasan koinstitusional yang nantinya disebut dengan UUD 1945, Panitia sembilan BPUPKI berhasil merumuskan Piagam Jakarta yang merupakan cikal bakal UUD 1945 yang didalamnya terdapat juga rumusan Pancasila sebagai berikut : 1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Piagam Jakarta ini yang didalamnya terdapat rumusan Pancasila diterima BPUPKI pada tanggal 14-16 Juli 1945, yang kalau kita runtut secara kronologis sejarah rumusan sistemetik lima azas dimulai tanggal 29 Mei 1945, 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, 14 Juli 1945, dan ini bukan merupakan rumusan yang final karena masih bersifat usulan perseorangan, kecuali usulan Piagam Jakarta. Itulah awal singkat sejarah perumusan azas dan landasan konstitusional yang terjadi pada masa Indonesia dikuasai oleh Jepang yang pada awalnya merupakan langkah yang dilakukan Jepang untuk lebih memikat bangsa Indonesia yang ternyata oleh bangsa Indonesia kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan untuk mempersiapkan kemerdekaan, yang ternyata sudah terjadi reorientasi pandangan dan maksud pembentukan awalnya.

Namun ternyata langkah-langkah yang dilakukan oleh Jepang di Indonesia yang pada awalnya untuk memikat lebih bangsa Indonesia tidak berdampak positif terhadap keadaan Jepang dalam Perang Dunia II, dimana posisi Jepang ternyata semakin terjepit. Kondisi ini diperkuat dengan dijatuhkannya dua bom atom di Nagasaki dan Hiroshima oleh Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, tentunya dipilih dua kota itu dilatar belakangi oleh factor strategis militer. Dan ternyata ini mengakibatkan Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Dari sinilah kita benar-benar diuji kebangsaan kita. Golongan pemuda yang sejak awal kedatangan Jepang menolak kedatangan Jepang, setelah mendengar bahwa Jepang sudah menyatakanm menyerah mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekan. Sikap ini diambil tentunya dengan alasan tertentu dan ingin segera memanfaatkannya, karena kondisi Indonesia pada waktu itu berada dalam kondisi vacuum of power, artinya Indonesia sedang berada dalam kekosongan kekuasaan yang ditandai dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu, Sekutu sendiri belum dating ke Indonesia untuk menggantikan Jepang disisi lain Indonesia belum menyatakan merdeka. Namun ternyata desakan golongan muda kepada golongan tua tidak berhasil untuk segera melaksanakan proklamasi kemerdekaan, golongan muda dengan alasan tertentu dan golongan tua dengan alasan tertentu pula menolak keinginan golongan muda.

Tetapi pada dasarnya antara golongan muda dan tua mereka semua ingin segera melaksanakan proklamasi, perbedaan hanya terjadi kapan sebenarnya kita akan segera memproklamasikan, ini yang terjadi pada tanggal 15 Agustus 1945. Karena desakannya tidak diterima pada tanggal 16 Agustus 1945 golongan muda mengasingkan golongan tua ke Rengasdengklok, peristiwa inilah yang terkenal dan disebut dengan Peristiwa Rengasdengklok. Latar belakang terjadinya peristiwa ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan visi antara golongan muda dan tua mengenai proklamasi kemerdekaan, golongan muda menghendaki kemerdekaan secepatnya dilaksanakan karena kondisinya menentukan tetapi golongan tua mempunyai pandangan lain bahwa proklamasi akan dibicarakan dulu dengan PPKI [dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 pengganti BPUPKI] .

Pertimbangan golongan tua yang demikian memberikan pemahaman kepada golongan muda bahwa proklamasi kemerdekaan yang menurut golongan tua akan dikompromikan dulu dengan PPKI, kemerdekaan seolah-olah merupakan hasil/pemberian Jepang karena keberangkatan pembentukannya BPUPKI hasil bikinan Jepang untuk kepentingan propaganda Jepang. Selain terjadinya perbedaan pandangan tersebut, tujuan golongan muda membawa golongan tua adalah untuk menjauhkan golongan tua dari pengaruh atau intimidasi pihak Jepang, juga tetap mendesak golongan tua untuk tetap secepatnya memproklamasikan kemerdekaan, berkenaan dengan prosesi kemerdekaan Indonesia.

Dengan mengedepankan rasa kebangsaan dan persatuan dan dengan tidak bermaksud merendahkan peran personal yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok akhirnya dicapai kata sepakat antara golongan muda dan golongan tua mengenai proklamasi kemerdekaan yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan besok hari tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.

B. Detik-detik Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Berdasarkan kesepakatan inilah kemudian golongan tua dan golongan muda kemudian kembali ke Jakarta untuk merumuskan/mempersiapkan proklamasi kemerdekaan, dan atas pertimbangan faktor keamanan, atas saran dari beberapa tokoh akhirnya perumusan naskah proklamasi kemerdekaan dilaksanakan di Jalan Imam Bonjol No 1, yang merupakan rumah dinas kediaman Laksamana Muda Maeda. Tentu Maeda memberikan rumahnya untuk tempat perumusan proklamasi kemerdekaan sangat beresiko dan Maeda siap dengan resiko yang dihadapinya. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama yang terdiri dari golongan muda dan tua ada yang berada di ruang depan, satu kelompok lagi yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs Muhamad Hatta dan Achmad Soebardjo berada diruang makan, mereka bertiga inilah yang terlibat langsung dalam perumusan teks proklamasi kemerdekaan. Naskah proklamasi kemerdekaan yang terdiri dari dua alinea ini, merupakan hasil konsep dari dua orang yaitu Achmad Soebardjo dan Muhamad Hatta, sedangkan peran Soekarno sebagai penulis konsep/ide/gagasan dari dua orang tersebut, tetapi dilain sumber dikatakan bahwa benar alinea pertama dari pemikiran A. Soebardjo sedangkan alinea kedua adalah hasil pemikiran dari Soekarno yang kemudian kedua alinea tersebut ditulis seperti yang sekarang merupakan hasil dari Muhamad Hatta.

Alinea pertama yang awalnya berbunyi “kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami” dari Achmad Soebardjo kemudian diubahnya pula menjadi “kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, alinea kedua [dalam satu sumber lain hasil Soekarno] yang berbunyi “hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara secepat-cepatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Kedua alinea tersebut kemudian oleh Muhamad Hatta [dalam satu sumber lain oleh Soekarno] digabungkan dan ditulis seperti yang kita kenal sekarang ini seperti ; Proklamasi Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonresia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, deselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, 17-8-‘05 Wakil2 bangsa Indonesia. Naskah yang sudah mereka rumuskan bertiga ini kemudian dibawa keruang depan saat golongan muda dan tua lainnya berkumpul, kemudian dibacakan oleh Soekarno. Setelah dibacakan salah satu golongan muda Soekarni menyampaikan sarannya agar naskah proklamasi yang sudah selesai itu dirubah. Berdasarkan atas saran tersebut kemudian Soekarno memberikan naskah proklamasi tersebut kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang.

Naskah Proklamasi tulisan tangan [menurut Soekarno atau Muhamad Hatta] disebut naskah proklamasi konsep dan naskah proklamasi yang di ketik Sayuti Melik disebut naskah proklamasi otentik, menjadi PROKLAMASI Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05 Atas nama Bangsa Indonesia Soekarno/Hatta. Kalau kita amati antara naskah proklamasi konsep dan otentik ternyata ada beberapa hal yang berbeda, dan ini tentunya disadari sebgai satu bentuk kepercayaan dari mereka yang hadir pada waktu itu. Setelah selesai merumuskan naskah proklamasi kemudian mereka semua kembali kerumah masing-masing dengan catatan bahwa proklamasi akan dibacakan dilapangan Ikada, tetapi karena disadari bahwa semua titik didaerah Jakarta sudah diawasi dengan ketat oleh Jepang, kemudian proklamasi dialihkan ke rumah Soekarno jalan pegangsaan timur no 56.

Pagi harinya tepat jam 10, hari jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur no 56 Ir Soekarno membacakan Proklamsi Kemerdekaan Indonesia yang dihadiri oleh golongan muda dan golongan tua serta segenap rakyat yang ada disekitarnya. Sejak itulah Bangsa Indonesia yang selama ini merupakan bangsa yang terjajah sekarang menjadi sebuah Negara yang bermartabat dan berdiri sejajar dengan bangsa lainnya.

Proklamasi kemerdekan yang dibacakan pada waktu itu ternyata berbeda dengan naskah yang otentik maupun dengan naskah proklamasi konsep. Tetapi kita harus ingat bahwa negara merdeka tidak hanya ditandai dengan pembacaan proklamsi kemerdekaan saja, tetapi ada factor yang lain atau syarat-syarat yang lain. Makanya dalam rangka untuk melengkapi syarat yang lain tersebut maka diadakan beberapa sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sidang yang pertama tanggal 18 Agustus 1945 membahas beberapa hal seperti 1. Berhasil menetapkan Piagam Jakarta menjadi landasan Konstitusional UUD 1945 dengan diadakan beberapa perubahan. 2. Berhasil menetapkan presiden dan wakil presiden secara aklamasi yaitu Ir Soekano dan M. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden yang pertama. 3. Akan di bentuk satu badan Komite Nasional Indonesia Pusat [KNIP] yang wewenangya dan tugasnya seperti DPR/MPR . Karena permasalahan belum selesai, agenda sidang PPKI kemudian diteruskan pada besok harinya pada tanggal 19 Agustus 1945 yang berhasil menetapkan beberapa keputusan seperti : 1. Membagi wilayah Indonesia menjadi 8 profinsi. 2. Membentuk 12 departemen 3. Membentuk 4 menteri negara. 4. Membentuk 4 pejabat negara. Sedangkan mengenai pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat [KNIP] yang merupakan agenda sidang pertama baru dapat direalisasaikan pada sidang ketiga tanggal 22 Agustus 1945, yang keanggotaannya baru diresmikan pada tanggal 29 Agustus 1945 dengan susunan sebagai berikut : 1. Ketua : Mr.Kasman Singodimejo. 2. Wakil ketua I : Sutarjo Kartohadikusumo. 3. Wakil ketua II : J.Latuharhary. 4. Wakil ketua III : Adam Malik. 5. Anggota : 137 orang.

Demikianlah peristiwa detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan, dengan tidak bermaksud merendahkan peran-peran personal tertentu, mudah-mudahan dengan kebersamaan dan persatuan walaupun masih ada yang perlu menggali dan mencari sumber baru untuk menghilangkan dualisme informasi sekitar proklamasi kemerdekaan negara kita yang didirikan tetap bertahan abadi untuk menciptakan kesejahteraan yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita UUD 1945 dan proklamasi itu sendiri tercapai. Amin………………………………………

C. Usaha-Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Perjalanan sejarah panjang Indonesia tidak dapat dihentikan dengan telah dicapainya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Karena hasil perjuangan bangsa ini harus dipertahankan dan di isi dengan pembangunan sesuai dengan cita-cita proklamasi itu sendiri. Namun ini tidak dapat dilaksanakan dengan lancar karena setelah proklamasi kemerdekaan kita dihadapkan dengan adanya usaha pihak Sekutu [Belanda] untuk kembali menguasai Indonesia, tentunya kita tidak menghendaki ini terjadi. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan kita melakukannya dengan dua cara, cara tersebut adalah dengan cara diplomasi dan cara militer.

Cara diplomasi ditempuh dengan jalur komunikasi dan dilalog baik dilaksanakan dua pihak maupun dengan melibatkan pihak dunia internasional, sedangkan cara militer dilaksanakan dengan adanya perang kemerdekaan di berbagai daerah baik yang bersipat lokal maupun terkatagori nasional.

C.1. Usaha Diplomasi 1. Diplomasi ke berbagai negara, usaha ini dilakukan dengan cara mengirim utusan/duta Indonesia ke berbagai negara atau lembaga luar negeri, tujuannya tentunya untuk memperoleh dukungan terhadap perjuangan Bangsa Indonesia dalam usahanya mempertahankan kemerdekan, utusan/duta-duta tersebut antara lain: 1. Lambertus Nico Palar dan Sudjatmoko ke PBB. 2. Soemitro Djojohadikusumo ke AS. 3. Soedarsono ke India. 4. Zaibuddin Zafar ke Arab Saudi. 5. Soebandrio ke Inggris. 6. Idham Cholid ke Pakistan. 7. H. Rosyidi ke Mesir. 2. Diplomasi di Forum PBB.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB tanggal 11 Agustus 1947 RI mengutus PM Sutan Syahrir, H. Agus Salim dan Sumitro Joyohadikusumo serta Sujatmoko diberi kesempatan untuk menyampaikan keadaan Indonesia yang sebenarnya. Dan berkat dari perjuangan diplomasi di forum PBB banyak negara yang terpanggil untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah yang terjadi antara Indonesia dengan Belanda. DK PBB kemudian membentuk Komisi Tiga Negara yaitu ; 1. Australia [tunjukan Indonesia] Richard Kirby. 2. Belgia [tunjukan Belanda] Paul Van Zeeland. 3. Amerika Serikat [ tunjukan Australia dan Belgia ] Dr.Frank Graham. 3 Diplomasi dengan Belanda dan BFO, ada beberapa perundingan yang terjadi antara Indonesia, Belanda antara lain; 1. 17 November 1945. 2. 10 Februari 1946. 3. 14-25 april 1946. 4. 20-30 September 1946. 5. Linggajati 6. Renville. 7. Roem Royen 8. Konfrensi Inter Indonesia. 9. Konfrensi Meja Bundar.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian KMB antara Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 yang dilaksanakan di dua tempat, di Den Haag dari PM Willem Drees kepada PM Drs. Moh Hatta dan di Jakarta dari Lovink sebagai Komisaris Tinggi Belanda kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil RIS dan sejak itu Belanda mengakui secara de fakto dan de jure kemerdekaan Indonesia walaupun dalam bentuk serikat [RIS], sejak itu maka Bekanda harus angkat kaki dari Indonesia, dan ini merupakan kekalahan Belanda untuk menguasai kembali Indonesia. Dalam satu isi Perjanjian KMB dikataakan bahwa masalah Irian Jaya/Irian Barat akan diserahkan satu tahun kemudian, tetapi dalam prakteknya Belanda dengan berbagai alasan selalu menunda-nunda perjanjian KMB dan konplik ini berkelanjutan sampai tahun 1962. Untuk menyelesaikan masalah ini Indonesia melakukan berbagai perjuangan sejak tahun 1950 dan puncaknya pada masa Demokrasi Terpimpin.

Langkah awal untuk melakukan pendekatan dengan Belanda dengan cara diplomasi antara lain: 1. Perundingan bilateral dalam ikatan Uni Indonesia Belanda dari tahun 1950- 1953, tetapi Belanda selalu menolaknya. 2. Dengan memasukan masalah Irian Barat dalam agenda Konfrensi Asia Afrika 1955, Indonesia mendapat dukungan dari negara-negara Asia Afrika. 3. Dengan memasukan masalah Irian Barat dalam agenda DK PBB maupun SU PBB, tetapi selalu gagal karena bElanda selalu mendapat dikungan dari sekutunya. 4. Pemerintah RIS memutuskan secara sepihak kerja sama Uni Indonesia Belanda pada tahun 1954. 5. Pemerintah RIS melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1960. 6. Pres Soekarno menyampaikan masalah Irian Barat didalam MU PBB pada tanggal 30 September 1960. Tetapi ternyata usaha-usaha diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah RIS tidak berhasil menyelesaikan masalah dengan Belanda mengenai Irian Barat, akhirnya bangsa Indonesia melakukan usaha pemogokan dan melaksanakan nasionalisasi perusahaan milik Belanda, tetapi karena tetap juga tidak berhasil melunakkan keinginan Belanda , akhirnya pada tanggal 19 Desember 1961 Pres Soekarno mengeluarkan TRIKORA yang isinya; 1. Gagalkan pembentukan Negara Papua bikinan Belanda. 2. Kibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat. 3. Bersiap untuk mobilisasi demi mempertahankan NKRI. Untuk melaksanakan perwujudan TRIKORA maka dibentuklah Komando Mandala Pembebasan Irian Barat pada tanggal 2 Januari 1962 dengan panglimanya Mayjen Soeharto, tugasnya jelas yaitu mengembalikan Irian Barat ke bumi Indonesia dengan jalan infiltrasi, eksploitasi dan konsolodasi.

C.2. Secara Militer

1. Insiden Bendera Yamato, peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 September 1945 karena sikap konfrontatif yang dilakukan Belanda dengan dikibarkannya bendera merah,putih, biru dipuncak hotel Yamato Surabaya, para pemuda yang mengetahuinya kemudian menurunkan bendera tersebut menyobek warna biru kemudian menaikkan kembali kepuncak Hotel Yamato.

2. Pertempuran Surabaya, peristiwa ini bermula dengan kedatangan tentara Sekutu di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 dipimpin Brigjen Mallaby sebagai pasukan RAPWI [ Relief of Allied Prisoner of War and Interners ], pada awalnya mereka diterima dengan baik, tetapi setelah mereka melakukan kegiatan merebut beberapa bangunan dan membebaskan pasukan sekutu yang ditawan Jepang dan juga adanya perintah dari sekutu agar senjata yang dirampas dari pasukan Jepang dikembalikan kepada sekutu. Permintaan Sekutu itu di hadapi oleh para pemuda Surabaya dengan melakukan penghancuran pos-pos Sekutu pada tanggal 28-29 Oktober 1945. Untuk menyelesaikannya pasukan AFNEI meminta Presiden Soekarno menghentikannya. Akhirnya atas permintaan Pres Soekarno, Bung Hatta dan Amir Syarifudin inciden dapat dihantikan dengan dibentuk kontak Biro, tetapi kemudian terjadi Inciden Jembatan Merah pada tanggal 30 Oktober 1945 dalam inciden ini Brigjen Mallaba tewas. Petinggi AFNEI Christison dan ultimátum Mayjen Mansergh agar para pemuda dan rakyat Surabaya yang memiliki senjata agar menyerahkan senjata ke pihak sekutu sampai tanggal 10 Nopember 1945 jam 06.00. Gubernur Suryo, Bung Tomo, Sungkono menolak permintaan itu, peristiwa ini merupakan pertempuran yang dasyat selama satu bulan dan memakan korban hampir 15.000 warga, untuk mengenang kegigihan para pemuda dan rakyat Surabaya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

3. Pertempuran Ambarawa, peristiwa ini bermula dari pemnbebasan secara sepihak tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Bethel terhadap para tahanan sekutu di Ambarawa dan Magelang, perang ini terjadi di Desa Jambu dipimpin oleh Letkol Sarbini, dalam perang ini gugur letkol Isdiman, kemudian perang diteruskan oleh Kol Sudirman. Dan untuk mengenang meninggalnya Isdiman dibangun dibangun Monumen Ambarawa/monumen Isdiman. Dengan mengerahkan sekitar 19 batalyon dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Semarang akhirnya pada tangal 15 Desember 1945 sekutu mundur dari Ambarawa ke Semarang. Karena perang ini dimenangkan denga cara infantri, maka tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Infantri oleh TNI AD. 4. Perang Medan Area , berita proklamasi ternyata baru sampai di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 oleh Mr. Teuku Moh Hassan, para pemuda dibawah pimpinan Achmad Tahir ,membentuk segera membentuk Barisan Pemuda Indonesia. Pertempuran pertama terjadi pada tanggal 13 Oktober 1945 yang dimulai dengan pengambil alihan sarana-sarana yang pernah dikuasai oleh Jepang. Pada tanggal 10 Desember 1945 Sekutu melancarkan serangan balasan secara besar-besaran dan perang ini memakan banyak korban. Selain di Medan perang juga terjadi di berbagai pelosok daerah di Sumatera.

5. Perang Bandung Lautan Api, perang ini terjadi karena tentara Sekutu menuntut rakyat dan para pemuda yang memiliki rampasan perang Jepang unntuk segera mengembalikan senjata tersebut kepada sekutu, tetapi ini tidak ditanggapi oleh rakyat Bandung, tuntutan sekutu dilanjutkan pada tanggal 21 November 1945, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum yang berisi bahwa selambat – lambatnya tanggal 29 November 1945 kota bandung bagian utara harus di kosongkan. Pemuda dan rakyat Bandung tidak mengidahkan ultimatum tersebut, sehingga insiden – insiden dengan pasukan sekutu sering terjadi. Untuk ketiga kalinya, sekutu pada tanggal 23 Maret 1946 mengeluarkan ultimatum yang isinya agar kota Bandung seluruhnya dikosongkan. Menanggapi ultimatum tersebut TRI Bandung menerima perintah dari Jakarta agar kota Bandung dikosongkan, tetapi TRI Yogyakarata memerintah agar Bandung di pertahankan. Akhiranya rakyat Bandung mematuhi perintah dari Jakarta, tetapi sebelum meninggalkan kota Bandung, mereka menyerang dan membumi hanguskan kota Bandung bagian selatan. Tujuan tindakan ini agar pos- pos yang penting dan tempat – tempat yang vital tidak dapat dipergunakan oleh pihak lawan. Pertempuran – pertempuran melawan sekutu di Jawa Barat juga terjadi di daerah – daerah lain, seperti di Bojongkokosan, Cimareme, Dayeuhkolot, dan lain – lain.

6. Pertempuran Margarana,Bali 29 November 1946. Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, Belanda mendaratkan pasukanya di Bali, pada waktu itu Letkol I Gusti Nguruh Rai sedang berada di Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan markas tertinggi TRI mengenai pembinaan Resiman Sunda Kecil dan cara – cara manghadapi Belanda. Sekembali dari Yogyakarta, kesatuan – kesatuan resimennya ditemui dalam keadaan terpencar. Sementara itu Belanda sedang giat – giatnya mengusahakan berdirinya Negara Indonesia Timur dan membujuk Nguruh Rai untuk bekerja sama. Ajakan tersebut ditolaknya Ngurah Rai. Pada tanggal 18 November 1946, Ngurah Rai memulai perlawanannya dengan menggempur daerah Tabanan dan berhasil memenangkan pertempuran. Untuk menghadapi pasukan Ngurah Rai, Belanda mengerahkan kekuatan pasukan yang ada di Bali dan Lombok. Disebabkan kekuatan pasukan yang tidak seimbang, Ngurah Rai menyerukan Perang Puputan yang artinya mengadakan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Seluruh pasukan dan Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Margarana. Gugurnya Letkol Ngurah Rai melincinkan jalan terbentuknya Negara Indonesia Timur bagi Belanda pada tanggal 18 Desember 1946. 7. Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. Pasukan Sekutu mendarat di Palembang pada tanggal 12 Oktober 1945 di bawah pimpinan Letkol Carmichael yang juga diikuti oleh tentara NICA. Pemerintah RI di Palembang menentukan bahwa pasukan sekutu hanya diizinkan mendiami daerah Talang Semut, tetapi kemudian mereka meluaskan daerahnya ke tempat – tempat lain. Dalam suasanana yang panas tersebut terjadi insiden dengan pemuda ketika pasukan sekutu menggeledah rumah – rumah penduduk untuk mencari senjata. Sementara itu jumlah pasukan sekutu dan Belanda semakin bertambah banyak dan ketika sekutu meninggalkan kota Palembang pada bulan Oktober 1946, mereka menyerahkan kedudukannya kepada Belanda. Suasana kota Palembang semakin tegang ditambah ketika Belanda menurut supaya kota Palembang dikosongkan. Pemuda– pemuda menolak tuntutan tersebut dan pertempuran hebat pun tak terelakan lagi pada tanggal 1 Januari 1947. dalam pertempuran ini Belanda menggunakan peralatan dan senjata – senjata berat, tetapi TRI dan para pemuda dengan senjata sederhana dapat memberikan perlawanan yang gigih, bahkan berhasil membuat kerugian besar di pihak Belanda. Setelah pertempuran berlangsung lima hari lima malam, seperlima kota Palembang hancur serta korban berjatuhan di kedua belah pihak. Pada tanggal 6 Januari 1947 dicapai persetujuan gencetan senjata.

8. Serangan Umum 1 Maret 1949. Setelah Agresi Militer Belanda II sudah berjalan hampir satu bulan, rakyat dan TNI segara mengadakan pukulan – pukulan terhadap tentara Belanda dengan sasaran garis – garis komunikasi Belanda, seperti memutuskan kawat – kawat telepon, merusak rel kereta api, dan menyerang konvoi – konvoi Belanda. Akibatnya Belanda terpaksa memperbanyak pos–pos di jalan–jalan besar untuk menghubungkan kota –kota yang telah diduduki. Setelah kekuatan Belanda terpecah – pecah, TNI mulai mengadakan penyerangan ke dalam kota Yogyakarata. Puncak penyerangan TNI dan rakyat adalah serangan umum terhadap kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949. serangan ini berhasil menguasai Yogyakarta selama 8 jam. Keberhasilan serangan tersebut disiarkan melalui radio Wonogiri ke seluruh dunia. Puncak pimpinan TNI yang melakukan serangan umum ini meliputi sultan Hamengkubuwono IX, Letkol Soeharto ( sektor barat ), Mayor Vence Sumual ( sektor barat ), Mayor Sarjono ( sektor selatan ),Mayor Kusno ( sektor utara ), dan Letnan Amir Murtono ( sektor kota ), Serangan umum 1 Maret 1949 mempunyai arti penting bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi Belanda, sebagai berikut. 1). Ke dalam, secara psikologis dapat mendorong semangat perjuangan TNI dan Rakyat Indonesia yang sedang berjuang melakukan perang gerilya.2). Ke Luar, untuk membutikan kepada dunia luar ( Internasional ), bahwa TNI dan Negara Republik Indonesia masih ada dan sekaligus membantah kebohongan Belanda yangn menyatakan bahwa negara RI dan TNI sudah berhasil dihancurkan. Pertempuran – pertempuran itu sesungguhnuya merupakan perlawanan bersenjata Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, dan kedaulatan bangsa dan negara. Bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan,dan kedaulatannya, walau hanya dengan senjata hasil rampasan dari Jepang dan berbekal bambu runcing. Itu semua bisa terwujud karena Bangsa Indonesia berbekal semangat juang yang tinggi, rela berkoban yang disertai jiwa heroik, pantang menyerah, jiwa persatuan dan lebih baik berkalang tanah dari pada hidup harus dijajah kembali.

10. Peristiwa Merah Putih Manado Berita mengenai proklamsi kemerdekaan akhirnya sampai juga di Manado, rakyat menyambutnya dengan suka cita, namun ternyata pasukan sekutu yang membonceng NICA untuk mengamankan kepentingannya telah mempersenjatai p tentara KNIL, tindakan sepihak Sekutu ini tentinya tidak dikehendaki dan mengakibatkan munculnya sikap membenci pasukan sekutu [Pasukan Tangsi Putih] Desember 1945 pasukan Sekutu menyerahkan kekuasaannya kepada NICA, tindakan ini dilanjutkan dengan penangkapan sejumlah tokoh RI. Tindakan ini ditentang oleh para pemuda dan anggota KNIL yang pro kemerdekaan [Pasukan Tangsi Hitam], dan akhirnya mereka membentuk Pasukan Pemuda Indonesia [PPI]. Pada bulan Pebruari 1946 PPI menyerbu NICA di markas Pasukan Tangsi Putih di Teling, berhasil menguasai markas tersebut dan dibarkanlah bendera merah putih.

D. SEPUTAR SISTEM PEMERINTAHAN PASCA PROKLAMASI.

Situasi pasca Perang Dunia II yang berakhir tahun 1945 berpengaruh besar terhadap keadaan bangsa-bangsa yang baru saja mengalami kemerdekaan, dimana Blok Barat dengan paham liberal kapitalisme sebagai satu ideologi yang dominan mempengaruhi situasi dunia pada waktu itu. Situasi dan keadaan ini berpengaruh juga terhadap perkembangan dan warna sistem pemerintahan yang terjadi di Indonesia. Ini dapat dilihat dari perkembangan sistem pemerintahan tiga bulan setelah kemerdekaan. Melalui dikeluarkannya Maklumat Wapres No X, tanggal 3 Nopember 1945 yang isinya adalah adanya keleluasaan yang diberikan dari pemerintah kepada kepada rakyat untuk pendirian partai politik, kebijakan ini diambil oleh pemerintah agar kita diakui sebagai negara yang berideologi demokrasi, demokrasi versi barat. Dampak dari dikeluarkannya Maklumat ini tentunya berpengaruh terhadap terhadap sistem pemerintahan kita, Keputusan ini kemudian ditindak lanjuti dengan pembentukan kabinet parlementer pertama, Sutan Syahrir terpilih sebagai perdana menteri pertama, hanya disayangkan bahwa terjadinya perubahan sistem pemerintahan ini tidak bertujuan untuk membuat suatu perubahan kearah yang lebih baik, tetapi hanya semata bertujuan untuk agar kita diakui sebagai negara yang bersistemkan demokrasi seperti pemikiran barat yang mengatakan bahwa negara demokrasi adalah negara yang ditandai dengan banyaknya partai politik, selain demi pemikiran tadi juga ada faktor-faktor lain yang menyebabkan sistem pemerintahan kita mengalami perubahan.

Sistem pemerintahan ini ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan karena tentunya keadaan ini disebabkan situasi politik dan keamanan yang terjadi di Indonesia, dimana pada waktu itu kita selain konsentrasi untuk mempertahankan kemerdekaan, kita juga konsentrasi untuk mencegah kembalinya Belanda yang ingin mencoba untuk kembali menguasai Indonesia. Situasi ini berjalan sampai dengan ditandatanganinya perjanjian Konprensi Meja Bundar [KMB] tanggal 27 Desember 1949 Sebenarnya sejak itulah kita dapat dikatakan benar-benar masuk ke jaman demokrasi liberal, karena sistem pemerintahan kita mutlak berubah dan benar-benar berubah.

Dengan ditandatanganinya KMB maka sejak itu kita berbentuk Republik Indonesia Serikat [RIS] yang ditandai keanggotaan RIS terdiri dari beberapa negara bagian/federal seperti: 1. Republik Indonesia. 2. Negara Sumatera Timur 3. Negara Sumatera Selatan 4. Negara Pasundan 5. Negara Jawa Timur 6. Negara Madura 7. Negara Indonesia Timur 8. Kalimantan Barat. 9. Kalimantan Timur 10. Bangka 11. Belitung 12. Riau 13. Jawa Tengah 14. Dayak Besar 15. Banjar 16. Kalimantan Tenggara Kepala negara RIS yaitu Presiden Soekarno yang mulai bertugas mulai 28 Desember 1949 di Jakarta, Presiden RIS berstatus sebagai presiden konstitusional sehingga ia tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah sebab kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri Drs Mohammad Hatta. Sistem demokrasi yang diterapkan pada negara RIS adalah demokrasi liberal seperti yang diterapkan di Nederland dan Republik Indonesia sejak Sutan Syahrir berkuasa.

Bentuk negara dan pemerintahan RIS ternyata tidak dapat bertahan lama, ini karena disebabkan sistem pemerintahan RIS bersipat liberal kolonial yang memecah bangsa Indonesia menjadi negara ferderal tidak sesuai dengan jiwa dan semangat persatuan rakyat Indonesia, selain itu negara ferderal tidak didukung oleh rakyat dan ini juga disebabkan oleh upaya Belanda untuk memecah belah bangsa kita. Kuatnya jiwa untuk kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia inilah yang disebut dengan semangat Unitarisme, kuatnya keinginan rakyat untuk kembali ke bentuk NKRI dipelopori oleh Negara Pasundan dan Jawa Timur.

Sampai dengan tanggal 5 April 1950 Negara RIS hanya terdiri dari Republik indonesia, Negara Sumatera Timur, dan Negara Indonesia Timur. Akhirnya pada tanggal 19 Mei 1950 terbentuklah Piagam Persetujuan antara RIS dan RI yang bertugas merancang konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang hasil rancangannya ditandatanganipada tanggal 15 Agustus 1950 oleh Soekarnao yang nantinya konstitusi ini di sebut dengan nama Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akhirnya pada tanggal 17 agustus 1950 Negara Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan kita kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Konstitusi yang dipakai adalah konstitusi UUDS/1950.

E. MASA DEMOKRASI LIBERAL 1950-1959.

Setelah Republik Indonesia Serikat dibubarkan maka babakan sejarah pemerintahan kita masuk ke babakan sejarah pemerintahan demokrasi liberal. Hal yang sangat menonjol pada masa pemerintahan ini adalah terjadinya berbagai instabilitas pemerintahan. Instabilitas pemerintahan ini terjadi karena dilaksanakannya sistem oposisi dan koalisi pemerintahan yang berorientasai kepada kepentingan pribadi atau kepentingan kelompoknya, sehingga pada masa ini sering terjadi pergantian kabinet yang sering Tentunya dengan sering terjadinya pergantian kabinet ini merupakan satu gejala atau dampak banyaknya partai politik yang muncul pada waktu itu, misal Masyumi, PNI, NU, PRI, PSII, Partindo, Parlindo dan lain-lain. Selain itu juga berlaku sistem kabinet koalisi dan oposisi dimana dengan sistem ini riskan sekali dengan terjadinya pencabutan dukungan sehingga kabinet ganti lagi. Dari tahun 1950-1959 terjadi beberapa buah kabinet yang berkuasa, berturut-turut adalah: a. Kabinet M. Natsir [6 September 1950-21 Maret 1951] b. Kabinet Sukiman [ 27April 1951-3 April 1952]. c. Kabinet Wilopo [ 3 April 1952-3 Juni 1953] d. Kabinet Ali Sastroamidjojo I [31 Juli 1953-24 Juli 1955]. e. Kabinet Burhanudin Harahap [12 Agustus 1955-3 Maret 1956]. f. Kabinet Ali sastroamidjojo II [ 20 Maret 1956-14 Maret 1957]. g. Kabinet Djuanda [9 April 1957- 5 Juli 1959] Setiap kabinet mempunyai program kerja yang tidak ada satupun dapat merealisasikan programnya ini tentunya disebabkan pada masa itu dukungan dari oposisi dapt saja ditarik sewaktu-waktu bilamana kepentingan partainya sudah tidak dapat berjalan bersama lagi dengan partai pemerintah.

F. MOMENTUM MASA DEMOKRASI LIBERAL 1950-1959.

Sampai dengan tahun 1955 masyarakat kita dihinggapai perasaan gelisah terutama dalam politik, kegagalan kabinet ternyata menumbuhkan perasaan tidak percaya lagi kepada pemerintah, wakil-wakil rakyat di kabinet hanya mementigkan kepentingan partainya saja, oleh karena itu masyarakat mulia menuntut untuk dilaksanakannya pemilu yang tentunya diharapkan dari pemilu itu dapt mengakhiri kegelisahan masyarakat. Untuk itu sejak masa Kabinet Ali I, pada tanggal 4 November 1953 telah terbentuk Panitia Pemilhan Indonesia [PPI] yang diketuai oleh S. Hadikusumo. Pada tanggal 29 September 1955 diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan pada tanggal 15 Desember 1955 diselenggarakan untuk memilih para anggota dewan Konstituate [ Dewan Pembuat Undang-Undang Dasar].

Dalam pelaksanaannya Indonesia di bagi dalam 16 daerah pemilihan, 208 kabupaten, 2139 kecamatan, 43429 desa. DPR hasil pemilu beranggota 272 orang dengan perbandingan satu anggota DPR sebanding dengan 300.000 suara, sedangkan anggota Dewan Konstituante berjumlah 542 orang. Pelantikan anggota DPR tanggal 20 Maret 1956, anggota DK tanggal 10 Nov 1956, dari hasil pemilu ini didapat komposisi partai besar PNI 23 %, Masyumi 20,9%, Nu 18,4% dan PKI 16,4%. Keberhasilann pelaksanaan pemilu ini menunjukkan kematangan bangsa Indonesia, namun disisi lain keberhasilan ini tidak memenuhi harapan masyarakat , praktek politik dagang sapi diparlemen dan tawar menawar posisi terus mencolok dan berkelanjutan. Akhirnya tugas Dewan Konstituante yang mempunyai tugas merancang dan membuat undang-undang dasar yang baru pengganti undang-undang dasar sementara tahun 1950 tidak dapat menyelesaikan tugasnya.

Gagalnya usaha untuk kembali ke UUD 1945 melelui Dewan Konstituante serta rentetan peristiwa politik yang mencapai puncaknya pada bulan Juni 1959, akhirnya mendorong Presiden Seokarno untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa telah timbul’keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan kesatuan negara serta merintangi pembangunan nasional, dan berdasarkan staatsnootdrecht [ hukum keadaan negara dalam bahaya ],pada hari Minggu tanggal 5 Juli 1959 jam 17.00 Presiden Seokarno di Istana Merdeka mengumumkan Dekrit Presiden yang isinya : 1. Menyatakan pembubaran Dewan Konstituante hasil Pemilu 1955. 2. Menyatakan pembatalan pemberlakuan UUDS/1950. 3. Menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. 4. Akan dibentuk MPRS/DPAS.

Dengan dikeluarkannya Dekrit presiden ini maka berakhirlah masa demokrasi liberal 1960-1959 dan berakhir juga masa Kabinet Djuanda, sejarah Indonesia mulai masuk ke dalam sejarah baru yaitu masa demokrasi terpimpin. Walaupun pada masa demokrasi liberal ini kita mengalami instabilitas pemerintahan yang ditandai dengan sering terjadinya pergantian kabinet, instabilitas politik yang ditandai dengan terjadinya berbagai gerakan sparatisme diberbagai daerah yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan ini seperti terjadinya gerakan sparatis Andi Azis, APRA, RMS, PRRI, Permesta dan DI/TII, juga mengalami instabilitas konstitusional yang ditandai dengan penggunaan konstitusi UUDS/1950 yang diakhiri dengan keluranya Dekrit Presiden, tetapi pada masa ini pula Indonesia mengalami keberhasilan pelaksanaan politik luar negerinya yaitu dengan berhasilnya pelaksanaan penyelenggaraan Konfrensi Asia Afrika tahun 1955.

Konfrensi Asia Afrika merupakan pertemuan yang diperuntukan negara-negara di kawasan Asia Afrika yang dipelopori bangsa Indonesia untuk mengatasi permasalahan di dunia yang muncul pada waktu itu. KAA bukanlah organisasi yang bersipat ideologis artinya bukan kegiatan yang diperuntukan bagi satu ideologi, tetapi organisasi yang merupakan lintas ideologi, siapapun dapat menjadi peserta KAA dengan catatan mempunyai misi dan visi yang sama, ini dapat dibuktikan di KAA bahwa negara-negara yang berideologis berbeda dapat duduk sejajar memecahkan permasalahan internasional waktu itu. Ada beberapa faktor yang melatar belakangi pelaksanaan KAA ini.Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika memiliki beberapa persamaan.

Persamaan- persamaan yang dimiliki bangsa Asia dan Afrika pada waktu itu adalah sebagai berikut : 1 Memiliki letak geografis yang berbatasan dan sifat geografis yang sama. 2 Memiliki hubungan keagamaan dan keturunan. 3 Memiliki persamaan nasib, yaitu pernah dijajah bangsa Eropa. 4 Memiliki persamaan dalam menghadapi dan mengatasi masalah dalam n egerinya setelah memerdekakan diri, seperti masalah pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Persamaan nasib tersebut mendorong lahirnya kemauan untuk bersatu guna memperjuangkan nasib bangsanya. Setelah Perang Dunia II selesai, usaha PBB untuk menegakkan perdamaian dunia belum berhasil secara memuaskan. Sementara itu, rakyat di wilayah Asia – Afrika terus bergolak. Mereka berusaha membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan mencapai kemerdekaannya. Indonesia pun mengalami revolusi fisik dari tahun 1945 – 1950. Berkat perjuangan yang gigih dan pantang mundur, akhirnya negara-negara merdeka mulai bermunculan di kawasan Asia dan Afrika. Sesuai dengan Piagam Atlanta (1941) dan Piagam San Fransisco (1945), yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia, perjuangan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika merupakan hal yang wajar. Untuk mengimbangi dua blok raksasa (Blok Timur dan Blok Barat), yang selalu berusaha mempengaruhi dunia, Indonesia sebagai salah satu negara yang merdeka setelah Perang Dunia II mencetuskan suatu gagasan yang sesuai dengan cita-cita PBB, yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.

Gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi Asia – Afrika dikemukakan oleh Mr. Ali Sastroamijoyo. Pada waktu itu, Ali Sastroamijoyo menjadi Perdana Menteri Indonesia. Gagasan itu disetujui India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma. Untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika, dilaksanakan konferensi pendahuluan. Konferensi pendahuluan itu dilaksanakan di Colombo (Konferensi Colombo) dan di Bogor (Konferensi Bogor).

a. Konferensi Colombo Konferensi Colombo dilaksanakan pada tanggal 28 April – 2 Mei 1954.

Konferensi ini bertujuan membahas masalah Indo Cina sebelum masalah tersebut diselesaikan dalam konferensi di Jenewa.Dalam Konferensi Colombo, Ali Sastroamidjojo mengajukan usul diadakannya Konferensi Asia Afrika. Konferensi Colombo disebut juga Konferensi Panca Negara. Masing-masing negara peserta konferensi mengirimkan wakilnya: 1. Sri Lanka diwakili oleh PM Sir John Kotelawala; 2. Indonesia diwakili oleh PM Ali Sastroamidjojo; 3. India diwakili oleh PM Pandit J. Nehru; 4. Pakistan diwakili PM Mohammad Ali Jinah; 5. Burma (Myanmar) diwakili oleh PM U Nu. Dalam konferensi tersebut, dihasilkan keputusan- keputusan berikut. 1. Indo-Cina harus dimerdekakan dari imperialisme Perancis. 2. Kemerdekaan bagi Tunisia dan Maroko. 3. Menyetujui dan mengusahakan adanya Konferensi Asia Afrika dan memilih Indonesia sebagai penyelenggara.

Tujuan pertemuan di Colombo tersebut adalah membicarakan masalah meningkatnya agresi komunis serta soal persenjataan nuklir yang mengancam negara-negara muda (negara ketiga atau negara berkembang). Gagasan Indonesia untuk mengadakan konferensi Asia Afrika tidak dapat dilepaskan dari tujuan diplomasinya untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan Irian Barat. Oleh sebab itu, pada akhir tahun 1954 diselenggarakan Konferensi Panca Negara di Bogor untuk mengawali Konferensi Asia Afrika.

b. Konferensi Bogor Konferensi Bogor dilaksanakan pada tanggal 28 – 31 Desember 1954.

Konferensi di Bogor ini disebut juga Konferensi Panca Negara karena diikuti lima negara. Konferensi Bogor diadakan untuk merencanakan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Konferensi Bogor berhasil menyusun keputusan-keputusan berikut ini: 1. Konferensi Asia Afrika akan dilaksanakan di Bandung pada tanggal 18 – 24 April 1955. 2. Menetapkan negara-negara yang diundang sebagai peserta Konferensi Asia Afrika. 3. Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor. 4. Menentukan rencana agenda konferensi dan merumuskan pokok-pokok tujuan Konferensi Asia Afrika.

C. Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika a. Negara peserta Konferensi Asia Afrika diadakan di Bandung pada tanggal 18 – 24 April 1955.

Konferensi dihadiri 29 negara dari kawasan Asia Afrika yang terdiri dari 5 negara pengundang dan 24 negara yang diundang. Yang bertindak sebagai negara pengundang ada 5 negara, yaitu: Indonesia, India, Srilanka, Pakistan, dan Burma (sekarang Myanmar). Sementara itu negara-negara yang diundang adalah: Filipina, Nepal, Thailand, Libanon, Vietnam Selatan, RRC, Vietnam Utara, Afghanistan, Laos, Iran, Turki, Irak, Jepang, Syria, Yordania, Saudi Arabia, Kamboja, Yunani, Mesir, Lybia, Sudan, Liberia, Ethiopia, Ghana. b. Agenda Konferensi Asia Afrika Agenda pokok yang dibicarakan dalam Konferensi Asia Afrika I di Bandung adalah sebagai berikut. 1 Memajukan kerja sama antarbangsa di Asia Afrika demi kepentingan bersama. 2 Meninjau masalah-masalah sosial, ekonomi, dan budaya. 3 Memecahkan masalah kedaulatan nasional, rasialisme, dan kolonialisme. 4 Memperkuat kedudukan dan peranan negara di Asia dan di Afrika dalam usaha perdamaian dunia.

c. Hasil-hasil Konferensi Asia Afrika Konferensi Asia Afrika I yang dilaksanakan dari tanggal 18 -24 April 1955 menghasilkan beberapa keputusan penting. Keputusan-keputusan yang dihasilkan antara lain sebagai berikut.1  Memajukan kerja sama antarbangsa di kawasan Asia Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya.2 Menuntut kemerdekaan atas Aljazair, Tunisia, dan Maroko.3.  Menuntut pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dan Aden kepada Yaman. 4.  Menentang diskriminasi dan kolonialisme.  Ikut aktif dalam mengusahakan dan memelihara perdamaian dunia.

Selain keputusan-keputusan di atas, Konferensi Asia Afrika I juga berhasil mencetuskan 10 prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sepuluh prinsip ini dikenal dengan nama Bandung Declaration atau Dasasila Bandung. Bandung Declaration ini dicantumkan dalam Declaration on The Promotion of World Peace and Cooperation. Berikut ini isi Dasasila Bandung.  Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan- tujuan serta asas-asas yang termuat dalam piagam PBB.  Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa besar maupun kecil.  Tidak melakukan intervensi atau campur tangan terhadap soal-soal dalam negeri negara lain.  Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif yang sesuai dengan piagam PBB.  Tidak mempergunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.  Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman- ancaman agresi terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan negara lain.  Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, sesuai dengan piagam PBB.  Mengajukan kerja sama untuk kepentingan bangsa.  Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

D. Pengaruh Konferensi Asia Afrika Konferensi Asia Afrika I di Bandung mempunyai pengaruh yang besar bagi dunia. Akibat Konferensi Asia Afrika I bagi dunia antara lain:  berkurangnya ketegangan dunia,  Australia dan Amerika Serikat mulai berusaha menghapuskan ras diskriminasi di negaranya, Belanda mulai kebingungan untuk menghadapi blok Afro-Asia di PBB. Konferensi Asia Afrika mempunyai arti penting bagi bangsa-bangsa di kawasan Asia Afrika khususnya dan dunia pada umumnya. Arti penting Konferensi Asia Afrika antara lain sebagai berikut.  Konferensi Asia Afrika merupakan bukti adanya rasa kebersamaan dan kebangunan bangsabangsa Asia Afrika untuk menggalang persatuan.

Konferensi Asia Afrika merupakan pendorong bagi perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika pada khususnya dan dunia pada umumnya.  Konferensi Asia Afrika merupakan kelahiran kelompok netral, yaitu kerja sama Asia Afrika yang menjadi kelompok penengah di antara dua blok (blok Amerika dan blok Soviet) yang selalu bersaing.  Konferensi Asia Afrika membuka harapan baru bagi bangsa-bangsa yang belum merdeka dan yang sudah merdeka. Mereka merasa bahwa di belakang mereka ada kekuatan yang akan membela dan membantu mereka saat mereka mendapatkan ancaman dari pihak lain. E. Kelanjutan Konferensi Asia Afrika Pada 19-24 April 2005 silam, negara-negara yang bergabung dalam KAA kembali bertemu di Bandung, Indonesia. Hal ini dilakukan oleh 100 negara peserta untuk menegaskan ulang bahwa semangat yang digalang tahun 1955 lalu masih solid dan berlaku. kemitraan sejajar, visi dan pemilikan bersama, dan juga tekad bersama yang kuat untuk menangani tantangan-tantangan bersama memajukan kemitraan berkelanjutan melalui melengkapi atau membangun inisiatif regional/ subregional yang sudah ada di Asia dan Afrika; memajukan masyarakat yang adil, demokratik, terbuka, bertanggung jawab, dan harmonis,memajukan dan melindungi hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar, termasuk hak untuk membangun; memajukan upaya-upaya kolektif dan terpadu dalam forum-forum multilateral.

DAPTAR PUSTAKA

1. Eddy Rosadi, Belajar Efektif, Sejarah Untuk Siswa SMA/MA Kelas XII, PT Inti Media Ciptanusantara,2006.

2. Suparman Pengetahuan Sosial, Sejarah Untuk Kelas 3 SMP/MTs, Kurikulum 2004, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,2004.

3. Modul Diklat Peningkatan Pemahaman Sejarah Indonesia, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 2003.

4. Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1975.

5. Kuntjoro Purbopranoto, Santiaji Pancasila, Statu Tinjauan Filosofis, Historis dan Yuridis Konstitusional, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kurnia Esa Yakarta, 1972.

6. Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Untuk SMA Kelas I,II, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1981.

7. A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, PT Dian Rakyat,1986.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s