Catatan Sebuah Tabir Sejarah G.30.S/PKI/1965 Saduran dari Sulangkang Suwalu

Dalam beberapa bulan ini muncul dua buah buku baru, yang mengungkap tabir sekitar G.30-S, yang selama 32 tahun ditutup-tutupi Presiden Suharto. Buku-buku tsb ialah: “Suharto Terlibat G.30S” yang berisi pembelaan Kolonel Latief di depan Mahmilti II Jawa Bagian Barat pada tahun l973. Dan yang kedua buku “Palu Arit di Ladang Tebu” (sejarah pembantaian massal yang terlupakan), disertasi Hermawan Sulistyo di Arizona University.
Dengan membaca buku pembelaan Latief, dapat diketahui betapa akrabnya hubungan Latief dengan Suharto, bukan hanya karena Kolonel Latief bekas anak buah Suharto, tetapi juga hubungan persahabatan yang begitu kental. Antara kedua keluarga saling kunjung mengunjungi, bahkan ketika Suharto pindah ke Jakarta untuk memangku jabatan Panglima Kostrad, Kolonel Latief lah yang mengadakan dan menyediakan perumahannya. Dari hubungan yang begitu eratlah, Kol. Latief sampai pada kesimpulan bahwa Suharto loyal terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno. Menurut Kol. Latief ia datang ke RSPAD 30 September 1965 malam (pukul 21.00) untuk melaporkan rencana operasi G.30-S yang akan dilancarkan dini hari 1 Oktober 1965, guna menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal kepada Presiden Sukarno.
Tujuan Kol. Latief mendatangi Suharto, supaya sewaktu-waktu akan minta bantuan Suharto. Ia melapor kepada Suharto atas permintaan Brigjen Supardjo dan Letkol Untung. “Saya mempercayai kepemimpinan beliau. Seandainya berhasil menggagalkan usaha coup d’etat Dewan Jenderal, beliaulah yang terpilih sebagai Pimpinan, sebagai pembantu setia Presiden Sukarno. Tetapi situasi cepat berubah yang tidak bisa saya jangkau waktu itu. Beliau yang kami harapkan menjadi pembantu setia Presiden/Mandataris/Pangti menjadi berubah memusuhinya.” Dengan kata lain, Kol. Latief mendekati Suharto dengan rencana untuk menggunakan Suharto bilamana diperlukan, akan tetapi dalam kenyataan gerakan Latieflah yang digunakan Suharto untuk berhasil menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya. Akibat kekeliruan penilaian Latief tsb, Suharto berhasil menjadi penguasa di Indonesia selama 32 tahun, dengan didahului pembantaian massal. Bagaimana juga sukar dihindari timbulnya kesan bahwa gerakan Latief terhadap G.30-S sebenarnya merupakan bagian dari strategi besar Suharto untuk menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya. Kesan ini timbul, di antaranya karena:
1. A.L. Soengkowo, mantan perwira CPM yang menjadi pelaku dalam gerakan Latief, melalui buku kecilnya “Operasi Subuh September 65″. Latief mengatakan bahwa Suharto sudah mengetahui akan adanya G.30-S, secara langsung atau tidak ia terlibat di dalamnya. Akan tetapi apa yang diomongkan Latief merupakan manuver agar ia dikatakan bukan orangnya Suharto dan lepas dari penilaian negatif serta kutukan dari sesama rekan-rekan pelaku gerakan.
2. Pen-demisioneran kabinet oleh Dewan Revolusi itu hanyalah sebuah rekayasa permainan tingkat tinggi untuk memberi dalih bagi Suharto, untuk menuduh G.30-S melakukan kudeta. Bukan dirinya yang melakukan kudeta. Karena dalam prakteknya memang tidak terjadi pendemisioneran. Buktinya, Brigjen Supardjo pada 1 Oktober 1965 pagi hari melapor kepada Presiden Sukarno di Halim, tentang apa yang terjadi dini hari 1 Oktober 1965 tsb. Padahal Presiden Sukarno tidak termasuk dalam forma di Dewan Revolusi.
3. Sejalan dengan dilaporkannya rencana G.30-S di RSPAD 30 September malam, maka daerah Kostrad di Merdeka Selatan tidak diawasi pasukan G.30-S. Yang diawasi hanya daerah lain saja. Hal demikian tidak mungkin akan terjadi bila tidak ada understanding antara pimpinan G.30-S dengan Panglima Kostrad.
Mungkin karena itulah, maka Sawito ketika peluncuran buku Kolonel Latief di atas tanggal 17 Mei yang lalu mengatakan, sesungguhnya Suharto itu adalah Panglima G.30-S sekaligus Panglima Kostrad. Karena itu mudah dimengerti bila Sunardi SH mengatakan: coup de’tat G.30-S yang dikatakan gagal, justru berhasil dengan baik, sesuai dengan rencana lebih dulu, telah diatur dan diperhitungkan dengan cermat, yaitu menjatuhkan kekuasaan Presiden Sukarno sebagai pemegang pemerintahan yang sah (Lihat Kehormatan Bagi yang Berhak, hlm: l51). Ya, Sukarno sudah terguling, PKI telah hancur. Suharto di puncak kekusaan. Sekarang marilah kita amati tulisan Hermawan Sulistyo.
Hermawan Sulistyo lewat penelitiannya antara lain untuk menjawab: apakah ada pola pembunuhan yang seragam? Benarkah tentara yang merancang operasinya? YH, seorang pemuda yang punya peranan dalam pembunuhan, dalam buku Hermawan mengatakan: “Tidak ada pilihan lain, membunuh atau dibunuh. Tentu saja kami memilih membunuh.” Jadi, seakan-akan hendak digambarkan kepada masyarakat umum, bahwa pembunuhan yang dilakukan terhadap anggota dan simpatisan PKI, karena mereka hendak dibunuh PKI. Mereka hanya membela diri. Untuk itulah diciptakan “dokumen” yang berisi daftar nama tokoh agama yang akan dibunuh. Ucapan seorang tokoh yang berperan dalam pembunuhan massal tsb, telah melahirkan motto di kalangan pengikutnya: “kepruk dulu, persoalan belakangan.
Kalau menang mendapat bunga, kalau kalah mendapati tiang gantungan.” Dokumen-dokumen yang berisi daftar semacam itu, kata KH Yusuf Hasyim, didapatnya dari komandan-komandan militer setempat di desa dan kecamatan (Lihat Forum Keadilan, No 01, ll/4/99). Setelah sekian lama, kata Yusuf Hasyim, baru saya sadar, karena dokumen tsb kami dapat dari tentara. Apakah benar seperti itu? Apakah ini kerjasama kami dengan ABRI? Tetapi persoalannya adalah siapa memakai siapa dalam menghadapi PKI. Dokumen yang senada, juga ditemui, katanya, di markas PKI yang terletak di Jl. Kenari-Pasar Paing, Mburengan. Ada kabar burung, kata Hermawan, para penyerang menemukan dokumen yang menunjukkan orang-orang komunis telah membuat daftar nama-nama musuh mereka, yang diduga akan dibunuh di kemudian hari.
Jadi, pola yang seragam dari para pembunuh ialah mereka membunuh seakan untuk membela diri. Padahal tidak ada sama sekali mereka hendak dibunuh, Itu tercermin dengan baiknya dari apa yang dikatakan. Hermawan Sulistyo: hampir tidak ada perlawanan sama sekali dari pihak PKI. Malah salah seorang yang selamat dari pengejaran mengatakan: tidak ada perintah melawan dari pimpinan partai. Memang secara umum bahwa tentara yang merancang operasi pembunuhan massal tsb, dapat dikemukakan disini, seperti yang diuraikan Hermawan Sulistyo bahwa pihak Kodim, dan Brigif 16 yang bermarkas di Kediri, meminta kepada SS, Ketua satu partai di Kediri, untuk mengadakan apel siagan. Melalui apel siaga itulah penghancuran terhadap PKI, dkk.
Dalam perkembangannya, pada 14 Oktober 1965, 40.000 orang yang dituduh PKI, ditangkap oleh tentara. Pada 17 Oktober, Komandan Kodim, Mkd, memanggil SS. SS ditemani oleh Kapten Sd, kepala Seksi Intelijen Kodim. Pihak Kodim mengeluh atas pembiayaan untuk itu. Mkd dan Sd tidak mengerti maksudnya. SS menjelaskan: “Kirimkan mereka kesekolah, kesukabumi …ya, bunuh mereka!” Mkd dan Sd terkejut, tetapi setelah beberapa saat terdiam, ia bertanya: “Tetapi …bagaimana caranya?” SS menjawab, hal itu mudah dilakukan. Yang penting, pada prinsipnya Mkd dan Sd setuju atas usul tsb. Para tawanan kemudian dibagi dalam beberapa kelompok untuk dikirim ke “Lubang Buaya”. Para algojo dihubungi, beberapa orang diantaranya tentara yang berpakaian sipil. Malam-malam para tawanan itu “disekolahkan”. “Murid-murid yang pergi ke sekolah itu”, berjumlah sekitar 15.000 orang dari sekitar 40.000 orang tawanan. Sebanyak 25.000 orang dilepaskan. SS dan Kodim menyebut operasi ini sebagai “operasi teratur” SS memperkirakan, di samping “operasi teratur” ada “operasi tidak teratur”, yang memakan korban 5.000 orang. Jumlah korban seluruhnya 20.000 orang.
Operasi tidak teratur terjadi dengan pola lain. Tanggal 16 Oktober 1965 apel siaga diadakan pula di Grogol. Setelah apel siaga, operasi menjalar ke desa-desa dan Kecamatan Satang, Jengkol, Mbiro dan Bendosari. Di Desa Kepang Pace, hanya satu laki-laki yang masih hidup. Sisanya dikirim “kesukabumi”. Itu berarti lebih dari 1000 orang dibunuh. Dengan meningkatnya suasana yang menakutkan, banyak anggota PKI meninggalkan rumah mereka dan pindah tidur di pelataran Bioskop Wijaya, yang berlokasi di depan markas Kodim dan Kepolisian. Dengan bermalam di tempat itu, mereka mengira bisa terhindar dari pengejaran dari rumah ke rumah yang dilakukan oleh kelompok Ronda. Tetapi secara diam-diam, Kodim mengangkut ratusan dari mereka ke perkebunan Sukosewu untuk
“disukabumikan”.
Dengan mencermati hasil penelitian yang dilakukan Hermawan Sulistyo terhadap pembantaian massal anggota PKI dan simpatisannya di daerah Kediri dan Jombang sekitar 1965/1966 dapat diketahui betapa dominannya peranan militer di dalamnya. Ya, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai di tengah rumah, akhirnya bau yang busuk akan tercium juga

About these ads

3 thoughts on “Catatan Sebuah Tabir Sejarah G.30.S/PKI/1965 Saduran dari Sulangkang Suwalu

  1. Semoga arwah mereka yang tidak berdosa diterima di sisi Allah Yang Maha Bijaksana. Semoga di pengadilan akherat kelak “Sang Hakim Agung” akan memberikan hukuman kepada mereka yang bersalah. Amin.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s