Revolusi Pengajaran Melelui Laptop

Dunia pendidikan telah berubah kita setuju atau tidak setuju dan kita mesti segera angkat kaki dari sistem pembelajaran konvensional yang selama ini kita anut dan pegang dengan erat. Teknologi telah menguasai hidup kita kini dan akan semakin besar perannya di masa mendatang. Jadi, kecuali kita ingin agar anak-anak generasi penerus kita tinggal di dalam gua atau menjadi warga dunia kelas empat dan lima, kita harus segera menguasai dan mengadopsi teknologi dalam system pembelajaran kita. Tidak bisa tidak. Teknologi adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi modern. Teknologi mengubah cara kita hidup, apa yang kita lakukan, bagaimana kita berkomunikasi, dan bagaimana kita bekerja. Reformasi pendidikan haruslah dimulai dari guru karena gurulah yang harus memulai perubahan dan bukan siswanya. Guru haruslah menjadi pemimpin dan pelopor dalam perubahan. Dan untuk dapat menjadi pemimpin perubahan maka guru haruslah melakukan perubahan dulu dari dalam dirinya sendiri dengan melakukan perubahan yang mendasar dan revolusioner dalam menjalankan
proses belajar mengajarnya
IRONI SUMBER DAYA PENDIDIKAN KITA
‘A revolution in teaching the child requires a revolution in the way teachers learn’, kata Wikiversity. Jika ingin terjadi perubahan pada cara belajar siswa kita yang pertama-tama perlu diubah adalah cara belajar gurunya. Kita tidak mungkin berharap anak-anak kita menguasai teknologi informasi, umpamanya, jika bahkan para gurunya pun tidak mengenal teknologi tersebut. Jika ingin mengubah wajah pendidikan kita maka yang pertama-tama harus dirombak total adalah sistem pendidikan guru kita di semua LPTK. Jika system pembelajarannya masih mengunakan system konvensional maka jelas tidak masuk di akal jika kita berharap lulusannya akan dapat menjadi guru yang siap untuk menghadapi tantangan abad 21. Berbagai hasil statistik menunjukkan ketertinggalan kita di bidang pendidikan. Masalah besar kita adalah kualitas guru yang
kita miliki. Berdasarkan hasil survey dari Pustekkom pada 195 orang guru SMAN
ternyata 77% di antara mereka ternyata belum pernah mengenal internet dan sisanya pernah menggunakan antara 1 s/d 5 kali. Jadi bagaimana kita bisa berharap bahwa mereka akan dapat mengenalkan teknologi kepada para siswanya (apalagi menguasainya sebagai bekal hidup di masa depan)
TUGAS GURU ADALAH BELAJAR
Meski selalu dikatakan bahwa tugas guru adalah terus belajar tapi pernahkah kita perduli bagaimana guru belajar dan apa materi yang harus terus dipelajarinya? Fakta adalah bahwa sangat langka ada guru yang terus belajar secara mandiri dan umumnya mereka hanya menggunakan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun yang lalu ketika masih di bangku kuliah. Guru telah berhenti belajar karena faktor tak adanya alat, materi dan sumber belajar secara mandiri dan tak adanya sistem dan lingkungan yang kondusif untuk mendorong guru untuk tetap belajar memperbaharui ilmu pengetahuan mereka. Dengan jumlah guru hampir 3 juta orang saat ini Depdiknas tidak mungkin diminta untuk menyelenggarakan pelatihan berkala bagi semua guru yang ada sehingga tugas untuk belajar dan berlatih haruslah dilakukan oleh guru sendiri secara mandiri. Depdiknas hanya akan dapat memberikan bentuk pelatihan yang bersifat TOT (training of Trainers) yang nantinya akan diharapkan bergulir. Jadi tantangannya adalah bagaimana caranya membuat guru mau dan mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Untuk itu guru harus dibekali dengan alat, materi dan sumber belajar yang dapat digunakannya untuk belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Alat, materi dan sumber belajar tersebut haruslah mudah digunakan dan diakses dan juga benar-benar bermanfaat dalam membantu guru menjalankan tugasnya sehari-hari di kelas maupun di luar kelas.
GURU HARUS MELEK INTERNET
Internet itu jalan raya dari abad 21 yang akan mengantarkan kita untuk berkomunikasi dan saling tukar informasi. Komoditas utama di masa depan adalah ilmu pengetahuan dan bukan lagi minyak atau batubara. Untuk mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan maka kemampuan teknologi, komunikasi, berpikir kritis, dan kemampuan berkolaborasi adalah dasar dari pengembangan ilmu pengetahuan. Jika para guru masih belum beranjak dari pola pembelajarannya yang konvensional maka silakan minggir karena sungguh apa yang diajarkannya di kelas tidak akan dapat dimanfaatkan oleh para siswanya kelak.
SAGUSALA (SATU GURU SATU LAPTOP), PROGRAM LAPTOP UNTUK GURU
Program SAGUSALA adalah sebuah program realistis yang dirancang untuk menjawab permasalahan belajar guru agar mereka dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan sekaligus menjadi Guru Abad 21. Laptop in akan menjadi ’one tool for all teacher‘s purposes’. Pertama, perangkat laptop ini dapat digunakan sebagai sumber dan alat belajar bagi guru dalam upaya pengembangan diri secara berkelanjutan (sustainable professional development) yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajarnya di kelas maupun di luar kelas . Kedua, selain sebagai alat dan sumber belajar laptop ini juga dapat dipakai untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan para guru di seluruh dunia dengan menggunakan materi belajar kelas dunia. Alat ini akan dapat membuat guru melakukan reformasi baik dalam ilmu pengetahuannya maupun dalam cara mengajarnya.
APA MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI BAGI GURU?
Dengan menggunakan teknologi maka guru akan sangat terbantu dalam menjalankan tugasnya dalam mengajar.
Pertama, pembelajaran mereka akan lebih menarik sehingga akan dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dari guru. Visualisasi dan animasi materi pelajaran akan membuat siswa lebih mudah untuk memahami dan lebih tertarik untuk lebih mendalami materi.
Kedua, jika semua materi pembelajaran dapat dikemas dalam sebuah laptop maka itu
sama dengan menjinjing dunia dalam satu genggaman. Bayangkan berapa banyak
informasi yang bisa dimasukkan dalam laptop tersebut dan ditampilkan oleh guru pada siswasiswanya. Bahkan berbagai kamus dan ensiklopedia dapat ditanamkan dalam laptop tersebut sebagai sumber belajar yang luar biasa kapasitasnya.
Ketiga, memiliki laptop dengan kumpulan informasi yang diperlukan untuk mengajar jelas akan memudahkan guru dalam melakukan persiapan. Persiapan mengajar akan lebih mudah karena tinggal seleksi, salin, edit, dan tempel materi persiapan yang telah ada dan sajikan. Hal ini akan memberikan guru waktu lebih untuk menyiapkan materi pengayaan dan remidial yang dibutuhkan siswa.
Keempat, pembelajaran jelas akan lebih relevan dengan dunia nyata karena materi yang ada pada laptop tersebut adalah materi-materi yang terbaru dan dapat selalu diupdate. Dengan demikian guru dan siswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan materi yang terkini dan tdak akan ketinggalan dengan materi dari belahan dunia mana pun. Guru dapat menyusun materi sesuai dengan kebutuhan siswa akan kehidupan nyata.
Kelima, pembelajaran jelas akan lebih kontekstual dan bermakna. Guru dan siswa akan
saling belajar pada materi-materi yang memiliki hubungan dengan dunia nyata. Guru juga akan lebih terdorong dan tertantang untuk mencari sumber-sumber belajar lain sehingga akan mendorong mereka untuk menjadi lebih aktif dan kreatif.
Keenam, pembelajaran berbasis TI akan mendorong guru untuk dapat menciptakan
sendiri materi-materinya dengan berusaha menyempurnakan materi-materi yang telah ada dalam laptopnya. Dengan demikian para guru akan membutuhkan kerjasama dengan guru-guru lain dalam menyesuaikan materi yang ada dengan kebutuhan nyatanya di kelas. Hal ini akan mendorong terwujudnya prinsip belajar seumur hidup atau ‘Life long learning’ karena guru akan tertantang utk selalu mencari bahan dari sumber manapun yang dapat digalinya.
MATERI APA YANG PERLU DIMASUKKAN DALAM LAPTOP TERSEBUT?
Agar laptop tersebut benar-benar bermanfaat bagi guru (dan tidak menjadi ajang main ’games’ belaka) maka laptop tersebut haruslah sudah berisi berbagai materi pembelajaran yang dibutuhkan guru untuk pengembangan pribadi dan profesionalismenya Kita bias memasukkan berbagai materi seperti : Buku Sekolah Elektronik (ada ratusan buku), Kumpulan soal Ujian Nasional (UNAS), Materimateri
pembelajaran interaktif, Digital Media Learning yang tersedia secara gratis dari
berbagai sumber, dan perangkat-perangkat lunak untuk pengolah kata, data dan presentasi.
PELATIHAN DAN DUKUNGAN KOMUNITAS
Membekali guru dengan laptop yang berisi semua materi dan sumber belajar mereka saja tidak cukup. Mereka harus tetap dberi pelatihan bagaimana menggunakan dan memanfaatkan laptop tersebut dalam membantu kebutuhan mereka dalam bekerja sehari-hari. Tapi dengan memiliki alat tersebut para guru akan lebih mudah untuk belajar baik dari para ahli maupun dari sesama guru. Mereka telah memiliki alat dan bahan materi belajar mereka sendiri yang bisa mereka pelajari lagi sendiri ketika berada
di rumah. Jika para guru telah memiliki peralatan dan sumber belajarnya sendiri maka berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru akan lebih mudah untuk diselengggarakan secara terstruktur dan kontinyu. Guru juga akan mampu untuk belajar secara mandiri dengan peralatan dan sumber belajar yang bisa ia perbaharui sendiri Dengan memiliki laptop tersebut akan terbentuk komunitas guru pembelajar yang akan saling belajar dan bertumbuh (sharing and growing together). Guru akan dapat memasuki sebuah komunitas guru profesional baru yang akan dapat membantunya berkembang bersama. Saat ini Klub Guru Indonesia (KGI) telah menjadi komunitas guru pembelajar yang sangat aktif dengan berbagai kegiatan pelatihan guru.
BAYANGKAN!
Mari kita berandai-andai dan membayangkan seandainya ada 10.000 guru dalam sebuah kota yang melakukan lompatan besar dari yang semula belajar dan mengajar dengan sistem pembelajarana konvensional tiba-tiba kini menggunakan laptop dalam pekerjaan sehari-harinya di rumah dan di kelas. Bayangkan jika mereka terkoneksi dengan internet dan dapat mengakses sumber-sumber pembelajaran klas dunia dan dengan itu mereka mengubah wajah kelas mereka menjadi kelas pembelajaran Abad 21. Bayangkan jika para guru tiba-tiba berkomunikasi satu sama lain dalam komunitas profesional yang berskala dunia. Saya yakin akan terjadi revolusi dunia pendidikan di kota tersebut!
MENGAPA TIDAK...?
SAGUSALA bukanlah program ’mission impossible’ dan bahkan sebenarnya program yang sangat realistis. Mari kita lihat. Jika harga laptop bagi guru sekitar Rp.4 juta /buah, maka untuk membekali 10.000 orang guru hanya dibutuhkan dana sebesar Rp.40 M. Jika guru di kota tersebut dapat membeli laptop tersebut dengan sistem kredit cicilan 10 X (apalagi tanpa bunga) maka mereka akan dapat melunasinya kurang dalam setahun. Jika pemerintah daerah bersedia meminjami dana tersebut melalui bank pembangunan masing-masing maka upaya untuk mentransformasikan pendidikan ke pendidikan berbasis teknologi informasi akan segera terwujud kurang dari setahun. Dengan demikian pemda tersebut dapat berharap sebuah lompatan perubahan yang besar dan nyata dalam sistem pendidikannya Kota tersebut jelas akan meninggalkan kota lain yang masih menggunakan pendekatan dan paradigma pendidikan yang konvensional.
SINERGI SEMUA PIHAK
Mari kita bersama-sama mewujudkan citacita bangsa dan negara dalam bentuk
sinergisme antara semua pemangku kepentingan. Jika kita menggabungkan semua
potensi, sumber daya,keahlian dan pengalaman yang kita miliki masing-masing dalam
menggerakan perubahan di bidang pendidikan maka tidak mustahil bahwa kita bisa mengejar ketertinggalan kita dibanding negara-negara maju lainnya. Mari buktikan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s